cinta di antara waktu


3

Sebuah Karya Sederhana

Cinta di Antara Waktu

Kisah Klasik Masa Depan

K a r y a

P r e n n a t a  S o h i d

1.  Tempat itu adalah Sangrila

Sungguh tidak seperti hari-hari yang lalu. SMANSA yang biasanya begitu dominan dikuasai anak-anak kelas tiga. sekarang begitu sepi. Suara ribut dari sang penguasa angkatan pun kini sudah ngga ada. Entah mereka pada pergi kemana? atau mungkin, mereka ngga akan datang hari ini? Setahuku, ijazah memang belum resmi dapat dibagikan. Terkecuali bagi mereka yang dalam waktu dekat ini akan segera berangkat ke luar Batam. Umumnya, ijazah ini mungkin masih dua atau tiga hari lagi baru resmi dapat dibagikan. Ngga kerasa waktu telah merubah segalanya, yang lama kini telah bervolusi menjadi baru. membawa kepada sebuah tantangan hidup. Rasanya baru saja kemaren, aku masuk dengan sebuah ijazah SMP. tapi sekarang waktu telah mengantarkanku dengan cepat kepada ijazah SMA. Pengalaman dan teman baru sudah siap menjemputku.

Hah, jika sudah begini. Yang ingin aku lakukan adalah. bisa bertemu dan berkumpul lagi bersama teman-teman seperjuanganku. Yah, paling tidak untuk yang terakhir kalinya sebelum aku pergi. Sejak tadi, aku memang belum melihat ada mereka satupun disini. Yang tampak hanyalah anak-anak kelas satu dan kelas dua. kulihat mereka sedang belajar dikelas. Sedangkan ruangan kelas tiga, kini semuanya kosong. Tak berpenghuni! Tak ada satu pun terdengar suara kursi yang bergeser atau ketukan-ketukan meja yang biasanya selalu terdengar ketika sedang belajar. Oh rindunya aku jika mengingat saat-saat itu. Seandainya saja di dunia ini ada alat yang dapat mengulang waktu. Pasti sudah ku ulang waktu ini. dimana aku bisa berkumpul dan tertawa lagi bersama teman-temanku.

Aku coba untuk mengelilingi seluruh lingkungan sekolah. Dengan harapan aku bisa menemukan salah satu teman dari angkatanku. Pertama, Kucoba untuk menelusuri semua ruangan kelas tiga yang ada di lantai dua. Segera tanpa pikir panjang langsung kunaiki anak tangga ke atas. setelah sampai di lantai dua yang terlihat hanyalah koridor kosong yang memanjang sampai di ujung bangunan. tak ada satupun orang yang terlihat di lantai dua ini kecuali aku. pintu-pintu kelas semuanya tertutup dan digembok aman. Kursi-kursi masih tertata rapi di dalam. Whiteboard yang biasanya penuh coretan kini bersih tak ada sekikitpun noda. Di belakang kelas terpampang lukisan dengan sebuah nama “The new Angkasa” . ya itulah nama kelasku.

Setelah puas melihat di lantai dua. akhirnya aku pun memutuskan untuk coba  telusuri ke kantin. Biasanya anak-anak kalau lagi ngga ada pelajaran atau sedang jam kosong, mereka suka nongkrong disana. Segera kulangkahkan kaki ini turun kebawah dan menuju ke arah selatan. sepanjang deretan kelas dua harus aku lewati terlebih dahulu. Karena kantin letaknya memang di belakang sekolah.

Hah, Percuma! Setelah sampai, rupanya tak juga kujumpai mereka ada di sini. Yang kulihat hanyalah meja-meja bersih yang masih kosong. sudahla! mungkin memang aku yang datangnya masih kepagian. aku pun tak mau membuang waktu begitu saja dengan memikirkan hal-hal yang tak berguna seperti ini. Lalu kuputuskan untuk segera coba mengurus ijazah saja. pikirku lumayan, jika ijazah sekarang bisa kudapatkan lebih awal. maka kedepannya aku bisa lebih santai dan aku pun pasti bisa bebas bertemu dengan Annisa. Maklum saja, karena nanti sore aku sudah harus berangkat ke Bandung dan yang jelas, ini adalah hari terakhirku untuk bisa bertemu dengannya.

Segera aku langkahkan kaki ini menuju Ruang Guru. Letaknya sejalur lurus dari pintu masuk kantin. Dari sini aku bisa melihat sampai ke ujung bangunan sekolah. Aku pun kembali melewati sederetan kelas dua yang sedang belajar. dan disebelah kiriku ada sebuah masjid yang tenang. Setiap jumat masjid ini pasti selalu ramai karena ada kajian rutin bersamanya. Sedangkan pengurus masjid sendiri adalah dari anak ROHIS. Merekalah yang selalu membuat masjid ini selalu hidup dengan acara islami.

Akhirnya aku pun sampai di ruang guru. Disini tampak terlihat mereka sedang sibuk dengan tugas yang di emban masing-masing. Kertas-kertas menggunung di atas meja. Pulpen menari kesana kenari mengikuti gerak tangan. Keringat sedikit mewarnai di wajah para guru. Padahal ruangan ini ber AC! pikirku maklum, mungkin mereka terlalu sibuk. karena harus mengurusi berkas kelulusan anak kelas tiga yang segera mungkin, di tambah yang sebentar lagi akan ada ujian semester. Kulihat tak jauh di depan, ada sebuah meja yang menghadap ke arahku. Disitu tampak ada seorang guru berkerudung yang sedang duduk. Dia adalah salah satu guru yang sudah akrab denganku. Bu Dar, itulah namanya. Dia mengajar bahasa inggris dikelasku. Segera saja aku langsung menghampirinya.

“Siang Ibu! Saya mau nanya, apa ijazahnya sekarang sudah bisa diambil?” aku pun langsung menanyakan tentang ijazah ini kepadanya.

“Eh Anwar! Ijazahnya belum sampai kesekolah kita war! Ibu juga lagi nunggu nih. Kata petugasnya sih, mereka akan sampai kesini nanti siang. Mudah-mudahan aja mereka ngga telat”  ibu Dar pun menatapku sambil tersenyum.

Cukup kaget ketika aku mendengarnya. Ternyata sampai sekarang ijazahnya belum sampai juga.

“Kamu Anwar! berangkat ke Bandungnya jadi hari ini ?” Bu Dar pun lanjut menanyaiku sambil membereskan pekerjaannya.

“Iya Bu! Insya Allah saya jadi berangkat nanti sore. terus kira-kira saya bisa segera mengambilnya kapan bu?”  aku lanjut bertanya.

Yah, Mungkin bentar lagi lah agak siangan. Kalo udah ada, pasti ibu langsung kerjain. Kamu tenang aja war!”

“Siip! Kalo gitu nanti siang saya kesini lagi. makasih bu”  sambil berlalu aku pun pergi keluar.

Hah, Lega. ternyata Ibu itu masih inget, kalau hari ini aku akan segera berangkat ke Bandung. Yah Paling tidak, Bu Dar pasti nanti akan mendahulukan ijazahku dari pada yang lain. Tiba-tiba aku pun kepikiran Annisa. Sejak tadi aku memang belum melihat dia sedetik pun. Kangen aku rasanya. Lalu kuputuskan untuk segera menemuinya saja. Segera kulangkahkan kaki ini menuju ke arah kelas dua ipa satu. kelasnya Annisa. Tapi seperti biasa, aku hanya mau coba melihatnya dari samping WC laki-laki. Karena aku masih belum berani jika harus menghampirinya langsung ke dalam kelas. Kebetulan kelas dia letaknya di bawah dan di belakang sebelah kiri WC ini. Jadi dari sini, aku sudah dapat melihat langsung kedalam kelasnya. Karena jendelanya pun menghadap ke belakang. Aku perhatikan satu per satu lalu kucari prempuan yang berjilbab. Tapi sayang, dia sepertinya sedang tak ada di kelas. Yah sudahla, Aku coba untuk langsung menelponya saja. Kuambil handphone dari saku celana lalu kucari nama dengan tulisan “NISAnwar”. Sebuah nama yang kusingkat dari nama Annisa dan namaku sendiri, lalu kutekan tombol OK.

Assalamualaikum”  Annisa pun memberikan salam.

Ketika mendengar suaranya yang khas ini, aku langsung dapat membayangkan wajahnya yang anggun dan natural.

Wa’alaikumsalam” lalu kujawab dengan nada akrab

“Nisa, kamu lagi dimana?”  aku pun lanjut bertanya

“Nisa, lagi diwarnet sama anak-anak, mang kenapa gitu Mas?”

“Lagi di warnet? Dimana?”

“Nisa lagi di warnet yang deket halte, mas”  terangnya

“Ow yaudah, Mas kesana ya? Ntar klo dah nympe mas telpon kamu lagi”

Langsung tanpa berpikir panjang lagi. Aku langkahkan kaki menuju parkiran mobil. Tempatnya pas disamping lapangan bawah. Dekat lapangan upacara. Ketika kulewati lorong kantor kepsek, banyak sekali piala-piala yang dipajang disini. Aku ngga bisa menghitung pasti banyaknya berapa? mungkin ada sekitar lima puluh buah bahkan lebih. Piala-piala ini disimpen di dua lemari yang semua sisi-sisinya kaca. Jadi dari sisi manapun kita berdiri pasti kita tetap bisa melihatnya. Tapi sayang. Dari sekian banyak piala yang terpajang. Tak ada satu pun piala yang pernah aku sumbangkan untuk sekolah ini. Aku pun melanjutkan langkahku menuju area parkir sekolah. Melewati beberapa anak tangga kebawah.

Hfff… hari ini panas sangat. Menyengat seketika aku keluar. Lapangan basket pun turut memantulkan panasnya ke mataku. maklum saja, soalnya lapangan itu baru saja di cat minyak. Aku juga ngga tahan jika berlama-lama berdiri disini. Bisa basah semua badanku nanti. Walaupun udara hari ini sangat panas, tapi aku masih bisa bersyukur. Karena AC di mobil sekarang sudah bisa dinyalakan dan sudah bisa aku nikmati lagi. Tak terbayangkan, jika kemaren AC masih belum kuperbaiki. Pastilah sekarang aku akan menderita kepanasan. Masuk ke mobil tanpa AC Sama saja seperti masuk ke dalam sebuah oven raksasa. akan membuat keringat kita keluar terus menerus. Mengucur dari kepala hingga ke wajah. Tapi sekarang itu sudah ngga akan kurasakan lagi. Sungguh beruntungnnya aku, ketika mataharinya sedang terik seperti ini. AC mobil sudah bisa berfungsi kembali.

Sampainya di parkiran. Langsung kumasukan kuncinya ke lubang pintu. klek pintu kebuka. lalu aku masuk dan menyalakan mesin. Setelah berada didalam, aku pun mulai merasakan panasnya udara didalam mobil ini. Keringat pun mulai mengucur kebawah. Pikirku mungkin ini karena mobilku yang seluruhnya berwarna hitam gelap. Dari body hingga ke dalam-dalamnya hampir tak luput dari warna hitam. Karena menurut teorinya. Warna hitam adalah warna yang menyerap panasnya paling kuat.

Posisi mobil yang aku parkirkan mengahadap pintu masuk ruang kaca. Di belakang mobilku sekitar lima belas meter adalah gerbang pintu utama. Disamping kananku ada sebuah lapangan multifungsi. Setiap hari senin pagi, lapangan ini selalu dipakai untuk upacara bendera. Kalau setelah pulang sekolah biasanya anak-anak suka main futsal. Terkadang lapangan ini juga biasa dipake untuk bermain basket dan bola voley.

Sambil menunggu sirkulasi udara dimobil ini berganti. Kusetel musik ringan dan kubiarkan pintu mobil ditempatku menyetir ini tetap terbuka. Iseng kulihat ke sisi kananku. Ada sebuah lapangan yang biasanya  selalu rame. Kini tampak sepi, tak ada satupun orang yang berkativitas. Hah, aku jadi teringat masa-masa ketika aku tanding futsal bersama teman kelas.  “Angkasa” itu nama tim jika kita bertanding. Udah banyak kejuaraan yang kita raih dengan nama “Angkasa”. Hahaha aku pun jadi teringat geli. Gara-gara sering tanding futsal di tengah siang bolong. Akhirnya Mama pernah ditegur sama ibu wali kelas, waktu pada saat pembagian rapor. Tapi aku cukup senang. karena dengan begitu, menandakan bawha kalau Ibu walikelasku itu memang perhatian dengan murid kesayangannya ini.

Alhamdulillah. kukira sekarang panasnya sudah berkurang. lalu Aku nyalakan AC dan kusetel ke level Low, kenapa ngga langsung kusetel level high? Karena menurutku semua aspek harus diawali dari yang ringan dulu, termasuk AC. Supaya ia ngga terkejut langsung mendapatkan beban yang berat. Hal ini aku lakukan, juga untuk menjaga agar mesin AC ngga cepat rusak.

Pintu dan jendela kututup semua. Kini aku pun sedah siap berangkat dengan mobil kesayanganku. Segera kutancap dan kusetir mobil ini ke tempat Annisa. Tiga menit perjalanan. sampai juga aku ditempat warnet. Lalu kuparkirkan mobil pas di tempat yang teduh. Pikirku lumayan, setidaknya aku dapat menjaga agar udara didalam mobil tetap sejuk. Aku pun turun dari mobil lalu kukunci pintunya. Segera kucari di setiap ruko dengan sebuah tulisan besar yang bertuliskan internet. Tidak memerlukan waktu yang lama. Akhirnya aku pun dapat menemukan sebuah papan besar yang berwarna biru. Disitu tertulis GozilaNet lantai dua. Dibawahnya adalah rumah makan padang.

Segera aku masuk kedalam. melewati sederetan meja makan, lalu kunaiki tangga yang berada di paling belakang. Setelah sampai diatas, kulangkahkan kaki ini masuk ke area GozilaNet. Pertama masuk aku sudah langsung disambut oleh seorang penjaga warnet. Dia laki-laki gemuk dan berkulit putih. Akupun berlalu kemudian dengan perlahan kuperhatikan satu per satu bilik komputer. Lalu kucari wajah manis yang berkerudung indah. Tak lama setelah mencari, mataku pun tiba-tiba tertuju ke arah kanan. Setelah diperhatikan ternyata itu wajah Annisa. Dia sedang berdiri dan tersenyum ke arahku. Setelah kudekati, rupanya ia tidak sedang sendiri tapi bersama temen-temen kelasnya. Kulihat disitu ada Conni, Febie, Dhilla yang juga satu bilik bersama Annisa.

Hah, rasanya senang sekali aku bisa lihat senyuman yang dilihatkan Annisa kepadaku. Dia tampak lebih manis jika tersenyum seperti itu. Subahanallah, walaupun aku sudah lelah bergadang untuk menyelesaikan proyek dokumenter SMUNTI tadi malam. Tapi ternyata sekarang aku bisa semangat lagi, setelah melihat senyuman kecilnya itu. Tak beberapa lama setelah aku sampai dan menghampiri mereka. Annisa pun langsung mengajak yang lain untuk segera udahan. Conni yang mendengar ajakan Annisa lalu dengan segera ia langsung me-Log out komputernya. Karena dialah yang memegang kendali komputer, sedangkan yang lain hanya melihatnya saja. Aku lihat jam, ternyata sudah hampir jam dua belas siang. Hah, hatiku pun semakin resah. karena kurasa waktu hari ini benar-benar cepat menghilang dan berlalu begitu saja. Sungguh tidak terasa sekarang sudah jam dua belas lagi.

“Ya Allah. Akhrinya aku dapat mengerti bahwa betapa berhaganya tiap detik yang brjalan itu.Dan aku tidak akan pernah mampu untuk membayarnya jika itu bisa diulang”

 
 
 
Agar tahu pentingnya waktu SETAHUN, tanyakan pada murid yang gagal naik kelas.
Agar tahu pentingnya waktu SEBULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan bayi prematur.
Agar tahu pentingnya waktu SEMINGGU, tanyakan pada editor majalah mingguan.
Agar tahu pentingnya waktu SEJAM, tanyakan pada kekasih yang menunggu untuk bertemu.
Agar tahu pentingnya waktu SEMENIT, tanyakan pada orang yang ketinggalan pesawat terbang.
Agar tahu pentingnya waktu SEDETIK, tanyakan pada orang yang baru saja terhindar dari kecelakaan.
Agar tahu pentingnya waktu SEMILIDETIK, tanyakan pada peraih medali perak Olimpiade.

* * *

2. Kejadian tak terduga, di hari terakhir

Salah satu dari mereka tiba-tiba mengajak untuk makan bareng di Sangrila. Tempatnya tidak jauh dari sini, kira-kira hanya membutuhkan waktu enam menit perjalanan. Karena aku juga sama sekali belum makan, aku pun mengiyakan nya saja ajakan mereka itu. Kita pun keluar dari warnet dan masuk ke dalam mobil. Febie, Conni dan Dhila duduk di belakang. Sedangkan Annisa sendiri duduk di sebelahku. Dengan keadaan waktuku yang sekarang. Aku ngga ingin sampai waktuku terbuang begitu saja. Langsung dengan segera kutancap dan kubawa mobil ini menuju ke arah Sangrila.

Setelah sampai. kita dapat tempat duduk yang pas banget disamping sungai dan di atasnya ada pohon yang sangat rindang. Sungguh kerasa perbedaannya, ketika jalan di lapangan yang kosong sama duduk dibawah pohon sambil melihat sejuknya sungai yang ada didepan mata. Oh, segarnya.

Orang yang paling jail diantara teman-temannya Annisa adalah Febie. Ternyata kejailannya sampai detik ini pun tak hilang-hilang juga. Saat kita semua ingin duduk, tiba-tiba Febie berteriak dengan nada larangan

“Annisa! Pokonya. Annisa ma kak Anwar ga boleh makan bareng ma kami !! tu duduk aja disana yang masih kosong” sambil menunjuk kearah kanan, yang jaraknya dua meter dari tempat febie duduk.

Huh. Paling bisa aja kalau dia sudah melihat, aku dan Annisa lagi bareng. Pasti selalu aja ada yang diganggu dia. Tapi aku bersyukur bisa mendapatkan temen seperti dia. Ceria dan ramai.

Perempuan muda kira-kira berumur 27 tahunan menghampiri meja kami. Menanyakan pesanan. Aku dan Annisa hanya memesan makanan yang simpel aja. Empek-empek dan minuman es teh manis.  Sedangkan di meja sebelah, mereka memesan ayam bakar dan es jeruk. Aku bersyukur, di hari terakhir yang tinggal menyisakan waktu lima jam lagi ini. Ternyata aku masih sempat makan bareng dengan yang lain dan tentunya dengan Annisa. Tak berapa lama menunggu makanan sudah siap menghiasi permukaan meja kami. Selera makan pun bangkit ketika mengirup aromanya. Sambil menyantap hidangan. Kita semua pun ngobrol-ngobrol dan bercanda, walaupun meja kita terpisah dengan yang lain. Tapi kita tetap bersama.

Ngga kerasa makanan pun telah habis. Aku lihat jam sekali lagi ternyata sudah menunjukan jam dua belas lewat. Hahhhh, hatiku pun semakin gelisah terus memikiran waktu. Rasanya aku mengen lebih lama lagi disini. Tapi, sudahla aku tak kan pernah bisa menghentikan waktu ini. Kita pun berjalan menuju tempat dimana mobilku diparkir. Setelah sampai disamping mobil dan ketika ingin membuka pintu. aku jadi sangat kebingungan. Jantungku pun tiba-tiba berdetak kencang. dengan rasa yang penuh gelisah kuperiksa saku demi saku. tapi tetap aku ngga bisa menemukannya. Aku ulang-ulang dan kutelusuri semua tempat kita makan tadi. Setelah kutelusuri ulang ternyata hasilnya nihil, tetap tak kutemukan. Hah kemana hilangnya kunci mobilku ini. pikirku bingung.

Aku pun semakin pucat ketika kulihat satu per satu wajah temanku ini. Terutama Annisa. Aku paling ga bisa nunjukin rasa takutku kepada mereka. Aku coba tuk bersikap santai di depan yang lain. Tersentak aku pun langsung terpikir untuk memeriksa bagian dalam mobil. Siapa tau kunci itu ada di dalam dan masih menempel di tempat setir.

Kudekati dan kubongkokkan badan. Lalu kuintip kaca depan perlahan-lahan. Aku liat bagian demi bagian dengan teliti. Ternyata kunci itu ngga ada di tempat setir. Kulanjutkan pencarianku dengan menelusuri setiap bagian. Saat mataku tertuju ke arah bagian tengah. Antara tempat duduk aku dengan Annisa. Terlihat sepintas ada boneka seukuran tangan yang berwarna hijau. Kumantapkan penglihatan sekali lagi dan ternyata emang benar, itu adalah kunci mobil yang sebelumnya aku refleks lempar begitu saja. dan saat ingin keluar, aku kunci pintunya dari pengunci utama yang ada di bagian pintu. Lalu langsung kututup pintu tanpa membawa kuncinya bersamaku. Hahhh, ga nyangka! ternyata bisa juga aku berbuat hal yang seceroboh itu. Kutarik nafas  dalam-dalam. Aku berdiri tegak lagi lalu kuperhatikan wajah mereka satu persatu

“TEMAN! Kuncinya tertinggal di dalam”  teriakku, sambil tersenyum.

Mereka semua pun terkejut dan langsung serentak berkata

“HAAA! Kok bisa!” mereka bertanya penuh keheranan

“Iya, tadi pas ngunci pintu. kak Anwar lupa bawa kuncinya keluar!”

“Yaaa ampuuun. Kak Anwaaarr!!! Ada-ada aja lah” mereka pun seperti setengah ngga percaya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Terus gimana donk kak? Kakak punya kunci serep ga?” tanya febie kepadaku

“Ngga ada Feb!”

Ku perhatikan mereka jadi sedikit lebih cemas ketika mendengar jawabanku barusan. Aku ngga mengen mereka jadi ikut kebingungan gara-gara kecerobohanku sendiri.

“Tapi tenang ajalah kalian, ntar pasti juga ketemu jalannya kok!” Terangku sedikit menghibur.

Sempat terpikir olehku, untuk mencongkel paksa bagian mobil yang memiliki celah buat masuk. Tapi setelah aku putari sekeliling mobil, ternyata ngga ada satupun celah yang bisa aku congkel-congkel. Sudahla, akhirnya aku pun mengakui, kalo aku ngga akan mungkin bisa membuka ini, dengan keahlianku yang tidak ada basic nya sama sekali.

Aku pun tiba-tiba jadi teringat dengan langganan bengkelnya Mama. Letaknya di komplek Bank Duta, Tiban. Yah memang cukup jauh tempatnya dari sini. tapi cuman bengkel itulah yang aku kenal. Bersyukur, untung aku menyimpan nomer telponnya di handphone. Lalu kuambil handphone dan kucari satu persatu nama dari abjad “B” untuk bengkel, sampai ku ketik “O”. Terkadang untuk orang yang dekat denganku aku panggil dia Om. Aha, akhirnya kutemukan nomornya. Sebelum menelpon kucoba cek pulsa lebih dulu. Alhamdullilah, ternyata aku masih memiliki cukup pulsa untuk menelpon. Tidak kebayang jika di situasi seperti ini aku harus kehabisan pulsa, pasti aku akan tambah kerepotan dan kebingungan saja.

Assalamualaikum. Om Demung! sapaku

Wa’alaikumussalam,War!

Om! mobil mamah yang Toyota hitam ini sekarang pintunya terkunci!

“Terkunci gimana?” tanya nya kepadaku

“Iya, tadi saya lupa. Pintunya dikunci semua, tapi kuncinya ditinggal didalam. bisa benerin ga? Om! ” aku pun berharap jawabannya “bisa” entahla kalo seandainya dia bilang ga bisa. Aku harus minta tolong ke siapa lagi?

“Ow gitu masalahnya War! bisa.. bisa. Kamu posisinya dimana sekarang,war?”

Langsung saja dengan senang hati kuberitahu posisiku kini berada, dan Om demung pun menyanggupi permintaanku untuk segera datang. Hah, Aku bisa sedikit lega sekarang dan langsung saja kukabarkan berita baik ini ke anak-anak. Aku tahu mereka juga mulai cemas sejak tadi. Setelah mereka mendengarkan penjelasan dariku tentang berita ini. Mereka tampak sedikit lebih tenang. Untuk menunggu datangnya om Demung ke Sangrila, Kita pun kembali duduk ditempat kita makan tadi.

Febie, Dhilla, Conni dan Annisa terlihat sedang asyik membicarakan tentang kejadian dikelasnya barusan. mereka tertawa penuh canda. Tentang rencana liburan kelas pun jadi obrolan seru mereka. Karena aku tak tau sama sekali tentang apa yang mereka bicarakan. Aku pun hanya bisa menjadi pendengar yang baik saja. Tapi tak apalah aku tetap senang melihat mereka begitu.

Setalah cukup lama menunggu. Aku mulai gelisah lagi! Mengapa sampai sekarang om Demung kok belum datang-datang juga? Dalam hatiku bertanya penuh heran. Lalu kuputuskan untuk menelponnya lagi. setelah ditelpon ternyata, ia sedang mencari kendaraan buat pergi ketempatku. Aku pun percaya-percaya saja dan mencoba untuk menunggunya lagi. Nggak mungkinlah Om demung bohong. Pikirku percaya.

Setelah ku lihat jam, ternyata sampai detik ini pun Om demung belum ada kabarnya juga. HAH! Aku tidak boleh mengharapkan dia begitu saja. Siapa yang tau jika dia ngga akan beneran datang. Aku pun mulai gelisah lagi. Aku juga berusaha untuk menenangi diri sambil mencari jalan keluarnya. Tiba-tiba aku teringat dengan sahabat dekatku Dody. Aha benar! mungkin dia bisa membantuku. Dody adalah salah satu sahabat terbaik yang pernah aku kenal di dunia ini. Aku sangat Bersyukur, bisa kenal dengannya. Tanpa pikir panjang, langsung aku telpon ke handphone nya dan menceritakan segala yang terjadi. Aku juga meminta dia untuk datang ketempatku.

Sekitar lima belas menit aku menunggu, akhirnya dia sampai ketampatku dengan seorang gadis berkerudung. Namanya Citra. Dia juga adalah sahabat terbaik yang aku punya. Aku certikan semua kejadian yang menimpaku kepada dody dan ia pun langsung tetawa sambil terheran-heran, ketika tau bagaimana kornologis kejadiannya. Aku senang dia ada disaat seperti ini.

Mereka Febie, Dhilla, Conni dan Annisa sudah hampir setengah jam disini. Menunggu dan terus menunggu. Aku jadi ngga enak dengan teman-temanku yang lain terutama Annisa. Lalu kuputuskan untuk mencari bengkel-bengkel dijalan. Siapa tau ada yang mampu untuk membuka pintu mobil  keramat ini. yah mudah-mudahan saja. Aku pun berharap.

Akhirnya aku pergi berdua dengan sahabatku dody. Sedangkan yang lain tetap menunggu di meja makan. Citra pun ikut bergabung dengan anak-anak yang lain untuk menunggu kami berdua pulang lagi. Rasanya berat meninggalkan mereka disini. Aku sudah menyarankan agar mereka kuantar ke sekolah lebih dulu. Namun mereka tetap enggan untuk pergi duluan.

Tempat tujuan pertama kami adalah Sungai Harapan. Selain tempatnya paling dekat, disitu juga emang banyak bengkel-bengkel mobil. Yah, sebelumnya aku juga pernah ganti ban di daerah situ. Jadi sedikit banyak aku tau lah bengkel-bengkel yang ada di sana itu gimana. Sesampai di daereah Sungai harapan, Aku sudah bisa melihat bengkel-bengkel besar dan kecil bertebaran di sepanjang jalan. Rata-rata yang menjadi pelanggannya adalah mobil-mobil taksi yang punya traek sekitaran Sekupang dan Batu aji. Bengkel-bengkelnya pun kebanyakannya lebih sederhana. Ngga kayak diperkotaan yang besar dan dinding-dindingnya dari batu. Ngga ­apalah pikirku, aku bukan butuh Bengkel yang modern, tapi aku butuh orang yang mampu dan sanggup untuk mengambil kunciku yang tertinggal di dalam itu.

Setelah berkeliling. Aku pun minta dody untuk parkir dekat bengkel yang ada tempat parkirnya. Lalu kuperiksa satu per satu bengkel yang berjejer di jalan. Tampak dekat bengkel yang aku masuki ini, ada seorang mekanik yang sedang memperbaiki sebuah mobil tua. Kira-kira mobil keluaran tahun 80an, tampak sibuk ia dengan pekerjaannya. Yah mungkin dia sedang mengejar deadline nya. Sebaiknya aku tanya saja orang ini. Siapa tau dia bisa dan mau kuajak ke Sangrila. Yah semoga saja. pikirku berharap

“Permisi pak” Sapaku kepada mekanik yang sedang duduk itu.

“Yah de! Ada yang bisa saya bantu?”

“Gini pak! Mobil saya terkunci. Tapi kuncinya ketinggalan didalam mobil. Kira-kira bapak atau ada orang yang bisa buka pintu mobil saya ngga?”

“Terkunci ??. duh maap de! Saya ga bisa kalo untuk masalah itu”

“Ga bisa? Hmm.. kira-kira disekitaran sini ada yang bisa nggak ya pak?” Aku pun bertanya lagi dan berharap orang ini dapat memberikan info yang kubuthkan.

“Oh ada, pak Bahdur. Tiga bengkel dari sini. Coba aja kamu cari plang nama nya”

“Pak bahdur? Ok deh pak. Makasih banyak ya”

Betapa senangnya aku. Walupun  dia tidak bisa mengerjakannnya tapi ia telah memberikan informasi yang sangat aku butuhkan sekarang. Aku pun berusaha untuk mengingat-ingat nama bengkel yang baru saja diberi tahu oleh mekanik barusan. Aku lalui puluh meter demi puluh meter yang ada didepanku. Kuperhatikan plang-plang nama yang terpampang di tiap bengkel. Akhirnya plang dengan nama “Bahdur” kutemukan juga. Lalu ku masuk perlahan kedalam bengkel yang cukup asing bagiku ini.

Bengkel ini cukup sepi. tapi kukira, mungkin sekarang mereka pada istirahat makan. Kulihat kearah sekelilingku ternyata cukup berantakan. Ban-ban mobil bekas tertumpuk di dekat jalan masuk. Mesin-mesin rongsokan beserakan disamping pagar pembatas. Jalan masuknya juga masih tanah. Aku berlalu ke dalam sambil berharap ada orang yang dapat aku tanyakan. Aha, aku melihat didalam ada seorang mekanik yang sedang memperbaiki mobil. Dia laki-laki muda berambut pendek. Kira-kira umur 28 tahunan.

“Permisi Pak !” Sapaku, untuk memberitahukan kedatanganku kebengkel ini.

“Ya, ada apa Mas?”

“Disini ada yang bernama Pak Bahdur ngga?” Tanyaku langsung kepadanya.

“Oh ada. Pak bahdur kan? Sebentar Saya panggilkan.” Sambil berjalan menuju ke arah dalam bengkel.

Tak lama berselang, pemuda tadi datang kembali bersama seorang laki-laki yang lebih senior darinya. Kalo aku lihat kira-kira umur orang itu sekitar 40 tahun-an. Rambutnya lebih panjang dari pemuda tadi. Tanpa berbasa-basi lagi, Aku langsung mengutarakan maksud dan tujuanku datang mencarinya kemari. Dan Alhamdulillah ternyata Pak Bahdur menyanggupi dan setuju dengan kerjaan yang aku tawari ini.

***

Dua belas lebih tiga puluh menit. Sebuah angka yang kulihat di handphone. Menunjukan bahwa sekarang sudah semakin siang dan sedang menuju sore. Aku sangat gelisah karena ijazah sampai sekarang belum kuambil, ditambah mobil yang belum tau kapan bisa beresnya ini. Mana nanti aku juga mesti berpamitan dulu kerumah Tante. Tapi untunglah rumah tanteku ini dekat dari sekolahan. Aku panggil dia tante Tati. Dia adalah salah satu adik dari Almarhum Ayahku.

Sesampainya di Sangrila. Aku langsung menunjukan mobil yang aku maksud itu kepada Pak Bahdur dan asisstant nya ini. Mereka pun langsung mengeluarkan sebuah logam panjang yang bentuknya seperti penggaris. Kira-kira ada panjangnya semeter. Tak begitu kuhiraukan apa saja alat-alat yang mereka gunakan. Aku hanya benar-benar berharap agar mereka segera bisa membuka dan mengambilkan kunci itu kepadaku. Cepatlah! Cepat! dalam hatiku terus berucap berulang-ulang. Sambil aku melangkah berlalu ketempat Annisa dan teman-temannya duduk.

Kegelisahanku melihat jam di handphone berulang-ulang. Ternyata tak akan merubah apa-apa. Percuma! Hah, Kenapa aku harus melakukan hal yang tak berguna ini. Itu hanya akan membuatku semakin tertekan dan tak bisa berpikir tenang saja. Pikirku coba untuk menenangkan diri. Aku juga jadi teringat dengan sebuah kutipan yang pernah aku baca. Setres dan deperesi, kita sendiri yang menciptakannya. Keinginan hati kitalah yang memerintahkan kearah mana pikiran akan berjalan. Banyak hal yang belum kita tau kejadiannya akan seperti apa? tapi sudah kita ramal-ramal sendiri semuanya. Makanya hal yang kita takutin itu sebenernya murni karena pikiran kita sendiri, bukan karena keadaan. Semakin banyak seseorang meramal–negatif  semakin tertekan pikiran seseorang tersebut. Ya ya! bukan dengan kegelisahan dan pikiran agar aku bisa lepas dari semua ini tapi dengan usaha dan tindakan.

Aku perhatikan wajah temen-temenku  satu persatu yang sudah menunggu dari tadi. Aku hanya takut kalo ada salah satu dari mereka yang tidak senang dengan kejadian ini. Alhamdullilah, ternyata kulihat mereka sedang asik dan hanyut dalam pembicaraan yang penuh canda tawa. Itu terlukiskan di wajah mereka masing-masing. Kadang-kadang Aku juga suka curi-curi pandang ke arah orang yang aku sayang. Yah, Annisa. dia sungguh manis sekali ketika tersenyum. Aku senang sekali, setidaknya aku bisa sedikit melupakan kegelisahan yang dari tadi menyerangku.

Sungguh nyaman rasanya duduk dibawah pohon yang rindang. Pemandangan  langsung akan sejuknya sungai ini pun menambah ketenangan pikiranku. Tapi semua itu tak lebih, ketika aku bisa melihat Annisa dihadapanku. Semoga apa yang kurasa dan kecintaanku ini tidak berlebih. Karena kecintaan yang berlebih atas sesuatu yang tak abadi dan tak jelas itu. Hanyalah akan membuat kita lupa dengan hal-hal penting disekeliling kita.

Tak lebih dari dua puluh menit. tiba-tiba Pak Bahdur memanggilku dengan logat bataknya yang kental.

“De! ini mobilnya sudah selesai” sambil ia tunjukan kunci dengan gantungan berwana hijau itu kearahku.

Rasa kegelisahan yang terus menghantuiku sejak tadi kini telah berubah menjadi rasa kegembiraan yang luar biasa. “Allhamdullilah” aku pun berucap syukur. lalu kuberanjak dari kursi tempat peristirahatan ke arah mobil. Tidak jauh hanya berjarak sekitar 15 meter dari tempatku duduk. Aku lihat wajah temen-temenku kini pun berubah, tampak lebih bersemangat lagi. Pak Bahdur lalu menyerahkan kuncinya kepadaku. Dengan senang aku pun mengucapkan terimakasih kepada Pak Bahdur lalu kuambil kunci dari tangannya.

Kulihat jam sudah semakin sore tanpa pikir panjang aku langsung memanggil mereka semua. Seperti biasa Annisa duduk disampingku yang lainnya di bangku belakang dan sebagian lagi dimobil dody. Karena dimobilku sudah tak cukup. Dibelakang hanya cukup untuk empat orang. Dua diantaranya sudah diisi oleh mekanik.

Pertama aku antar mekanik kembali kebengkelnya di Sungai Harapan. Setelah sampai disana. sesuai dengan kesepakatan aku pun langsung membayar upah mereka sebersar lima puluh ribu rupiah. Sekarang aku harus segera kembali kesekolah untuk mengantar Annisa dan temennya. Karena takut mereka akan ada absen lagi dikelasnya nanti.

* * *

3. Terulang Kembali

Sudah waktunya juga sekarang untuk aku mengambil ijazah. Kuparkirkan mobil kali ini dipintu gerbang samping sekolah bukan di parkiran utama. Febie dan Dhilla  sudah turun duluan dari mobil. Kini tinggal aku dan Annisa yang masih nyangkut didalam. Yah, aku memang sengaja meminta yang lain supaya turun duluan. Karena saat ini aku ada perlu dengan Annisa. Ketika dia ingin membuka pintu dan beranjak keluar dari mobil. Sepontan aku langsung menghentikannya.

“Nisa! Bentar!”

“Kenapa Mas?” dengan nada penuh kebingunan dia membalikan badan dan menatap ke arahku.

“Ni buat kamu, Nisa!” Sambil kusodorkan sebuah bingkisan berwarna oren berbentuk lingkaran. Yang tingginya sekitar 7 cm. Dan diatas bingkisan tersebut telah aku letakan sepucuk bunga yang indah. Kulihat Anisa sangat terkejut dengan apa yang dilihat didepan matanya.

“Apa ini mas?”  tanyanya dengan punuh kaget dan tersenyum manis. Matanya berbinar-binar ketika melihat bingkisan ini.

“Kamu buka aja sendiri. Tapi jangan dibuka sekarang yah!  Mudah-mudahan ini ga dinilai dari harganya. Tapi dari ketulusan dari sang pemberi OK” Ucapku sambil gurau.

“Duh Mas! Makasih ya. Nisa jadi ga enak nih” Balasnya sambil tersenyum.

“Iya sama-sama, Apa sih yang ngga buat kamu seorang ini”  aku pun bales dengan gurauan.

“Huuu gombal!!” dia pun tertawa sambil memasukan bingkisan itu ke dalam tasnya yang berwarna putih.

Setelah kuserahkan bingkisan ini. Kita berdua pun segera keluar mobil dan menuju ke dalam sekolah. Sepanjang perjalanan ke dalam, aku hanya diam seribu bahasa. tak tau harus berkata-kata apa, begitu juga dia. Sesekali paling menanyakan “kamu mau kemana?” Rupannya setelah sampai di pintu ruang Pengkaji. Annisa pun pamitan denganku, dia mau ke kelas. Barangkali ada absen, terangnya. Hah padahal aku ingin sekali dia bisa menemaniku. Tapi tak apalah dalam hatiku berkata, yang penting mobilku kini telah kembali bisa dibuka. dan aku pun telah menyerahkan bingkisan itu kepada Annisa.

Kulihat dari luar jendela. Tampak ada sebuah meja panjang yang berukuran cukup besar. Mungkin lebih keliatannya seperti meja untuk rapat. Meja tersebut diletakan pas ditengah-tengah ruangan. Diatasnya sudah banyak ijazah-ijazah yang di jejerkan. Aku pun terhenti sesaat di pintu masuk. Lalu kuperhatikan satu per satu guru yang ada. Pas di depan mataku, kulihat ada seorang yang sudah sangat akrab denganku. Sungguh sangat senang sekali ternyata aku bisa bertemu denganya disini. Dia adalah guru Bahasa Indonesia dikelasku. Yah Ibu Emi, dia adalah salah satu guru terfavoritku di Smansa. Aku bisa dekat dengannya. karena Ibu Emi memang pandai bergaul dengan murid-murid. Tak jarang dia pun suka menggodaku saat ketika dia mengajar. Pasti ada aja yang ia sangkut pautkan dengan Annisa. Entah pada saat aku membacakan puisi atau pun sedang memberikan sebuah tanggapan. Nama Annisa pasti tak pernah lupa disebut oleh ibu Emi untuk menggodaku. Tapi itu lah yang membuatku jadi senang jika diajar olehnya.

“ Ibu!  ijazah Punya Anwar udah belum Bu! Pasti udah donk?”  Tanyaku dengan nada akrab.

“Ow kamu Nak! Tadi ibu lihat punya kamu udah beres semua kok. Paling tinggal kamu tanda tangan aja. Bentar ya, ibu cari dulu” ibu Emi pun mengelilingi meja

Setelah berkeliling. Ibu Emi akhirnya dapat menemukan izasahku. Lalu ia membawa dan menyerahkannya kepadaku.

Jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Ketika kupegang lembaran ijazah ini ditanganku. Aku sangat takut jika hasil UN ku ternyata jelek dan mendapat nilai pas-pasan. Terutama untuk nilai mata pelajaran ekonomi. Entahlah aku begitu takut dengan nilai pelajaran itu. Tapi aku sendiri udah bersyukur yang teramat dalam. Karena sudah bisa lulus dan bisa mendapatkan ijazah. Sebenarnya hal yang membuatku takut setengah mati adalah tentang kabar burung yang telah beredar. Anak-anak mengatakan kalo mereka mendengar pidatonya Ibu kepala sekolah saat yang lalu. ia mengatakan kalo tahun ini hampir 40% lebih anak semansa dinyatakan GA LULUS!!. HAH, alangkah terkejutnya aku ketika mendengar hal itu. Bayangkan saja jika aku termasuk dalam daftar yang ga lulus itu. pasti aku harus mengulang setahun lagi. Betapa sedihnya jika itu terjadi. Tapi untung hal itu hanya gosip belaka yang sama sekali ngga ada kebenarannya. Pada kenyataanya. anak Semansa ngga ada yang ga lulus, semua lulus 100% dan bisa melanjutkan studinya.

Perlahan aku lihat ada 3 nilai yang terukir di selembaran kertas berwana krem ini. Satu persatu dari atas kulihat ada angka 9,00 untuk Bahasa Indonesia. Hah, betapa senangnya bisa mendapatkan nilai segitu. Memang pada saat UN berlangsung aku ngga begitu kesulitan dalam mengerjakannya. Maklum saja, ini juga pasti berkat ibu Emi. setiap Pemantapannya aku selalu duduk pas di depan mejanya. aku juga tak jarang selalu di ajak diskusi olehnya.

Kuperhatikan kebawahnya lagi. ada mata pelajaran Bahasa Inggris lalu kulihat sebelah kanannya, tertulis angka 8,20. Alhamdullilah nilai Bahasa Inggrisku ternyata ngga dibawah angka 6. Karena pada saat mengerjakannya aku sudah sangat kewalahan dengan soal-soal yang diberikan.

Aku pun semakin takut ketika kulihat ada tulisan Ekonomi. dibawah mata pelajaran Bahasa Inggris. Emang sih, nilai ekonomi inilah yang paling aku takutkan. Dah jauh-jauh hari aku menduga akan mendapat nilai pas-pasan atau di bawah angka 5. Itu pun sudah menjadi harapanku dan menjadi rasa syukur. Jika paling tidak aku bisa lulus. Walaupun nantinya nilai ekonomi harus pas diangka minimal kelulusan.

Alhamdullihah rasa cemas yang tadi menyelimutiku kini telah berganti menjadi rasa syukur. Karena aku ngga menyangka ternyata nilai ekonomiku mendapat angka 7,11. Hahaha kok bisa ya? Dalam hatiku terheran-heran dan penuh rasa akan geli. Karena selama ini aku sudah dibuat takut olehnya. Takut tidak lulus hanya gara-gara satu mata pelajaran ekonomi ini.

Setelah puas melihat nilai. Kemudian aku tandatangani ijazah. lalu aku disuruh cap jari oleh Ibu Emi. Aku pun jadi grogi ketika akan cap jari dilembaran penting ini. karena takut nanti pletakan jariku salah. Bisa-bisa, seluruh permukan foto di ijazah ini tertutup pula dengan gambar jariku. Akhirnya Ibu Emi pun membimbing dan meletakan jariku pas disebelah foto yang terpampang di ijazah. Hah, Cakep juga ternyata! aku pun tersenyum ketika melihat fotoku sendiri.

Urusan ijazah akhirnya telah selesai dan kini sudah bisa aku bawa pulang. Lalu Aku bergegas beranjak untuk keluar dari ruangan ini. Kemudian kembali Aku coba melihat daftar apa-apa saja yang harus aku tuntaskan dan berkas-berkas apa aja yang harus aku urus sekarang. Setelah kulihat. Ternyata aku masih ada 3 tugas lagi yang harus segera dikerjakan. Pertama aku harus mengurus berkas-berkas rapor guna persyaratan masuk kulilah di Bandung nanti. Yaitu foto copy semua ropor kelas tiga. setelah itu aku juga harus segera mendapatkan legalisir dari sekolah.  Lalu tugas yang kedua adalah. aku harus pamitan dan menunjukan nilai ini ke Tante Tati. Rumahnya tak jauh dari sini, paling hanya membutuhkan waktu 7 menit jika aku menggunakan kendaraan sendiri. Dan tugasku yang terakhir, aku harus bisa menyempatkan waktu untuk mampir dan berpamitan ke rumahnya Annisa. Yah ini harus bisa.

Semua ini sudah kuhitung masing-masing waktu yang sekiranya akan Aku habiskan. Walaupun kejadian mobil yang terkunci dari dalam tadi ngga ada di daftarku. Tapi jatah waktu dari masing-masing tugas. sudah aku pangkas semua. Jadi ngga akan ada masalah lagi. Semua tugas pasti bisa aku selesaikan. pikirku yakin.

Segera dengan langkah yang cepat. Aku menuju ke ruang koperasi yang letaknya tak jauh dari kantor kepala sekolah. Di sana nanti aku akan memperbanyak berkas-berkas raporku. Karena hanya disitulah satu-satunya tempat foto copy di Smansa. Ada sih tempat foto copy-an yang lain. Tapi itu jauh sekali dari sini. karena Aku harus berjalan kaki lagi keluar dan itu pasti butuh waktu.

Setelah sampai di ruang koprasi. Aku sangat terkejut, karena ternyata di dalam sini aku harus mengantri! Lalu kucoba lihat jam di Handphone. ternyata sekarang sudah jam satu dan tak mungkin jika aku harus menghabiskan waktu untuk menunggu. kalo tetap disini terus. pasti aku ngga akan bisa menyelesaikan tugas-tugasku yang lainnya. Aku pun coba untuk mencari jalan keluarnya agar aku bisa foto copy dan juga menyelesaikan tugas-tugasku yang lain.

Aha, Tiba-tiba aku dapat ide. Kulihat di hadapanku ada seorang yang aku kenal dekat. Dia temanku Ali. Rambutnya selalu disisir kesamping dan dia juga mengunakan kacamata. Barangkali dia mau membantuku, aku pun berharap sangat. Lalu kuhampiri dia yang sedang mengantri.

“Hai, Li! Mau foto copy juga ya? “  kutepuk punggungnya dari belakang lalu ku rangkul dia.

“Eh, kamu War! Iya aku mo foto copy nih  buat persayaratan kulilah aku nantinya. Kamu juga ya sob! Dia pun balas balik bertanya.

“Hehe iya Li! Aku mau foto copy. Tapi kalo ikut ngantri gini aku ngga bisa. sekarang aku bener-bener dikejar waktu nih. E..e. Aku nitip ke kamu aja ya Li ! ”  Dengan senyuman memelas aku pun langsung menyodorkan sekumpulan kertas yang kupegang ini.

“Huu dasar kamu War! Nitip aja terus. Mang mau kemana sih?”  Tanyanya sambil gurau.

“Maklumlah Gw ni kan orang sibuk men! Hehe ngga lah sob! sekarang aku harus kerumah Tante. mau pamitan sama nunjukin ijazah ini kepadanya. Jadi gimana Li! aku titip ini ke kamu aja ya? Boleh kan boleh donk. iya kan iya donk.” Aku pun balas menggodanya

“Yasudahla boleh. mumpung sekarang aku lagi baik nih. Sini mana yang mau difotocopy-in?”

“Ni semuanya fotocopy-in jadi rangkap enam ya sob!” Sambil kuserahkan rapor ini kepadanya.

“Siip. Tenang aja bos!”

* * *

Matahari pun kini semakin bergeser ke arah barat. Teriknya juga sudah tidak semenyengat tadi siang. Keringat yang tadi bercucuran ketika tersengat panas matahari. sekarang sudah ngga terasa lagi. Sedikit lebih adem. Ini menandakan bahwa waktu terus bergulir dan sudah semakin menyapa datangnya sore hari.

Aku berlalu menuju mobil. kulihat disekelilingku. Ternyata sekolah ini sudah semakin sepi senyap. Tampak hampir seperti sekolahan yang tak berpenghuni. Anak-anak kelas 1 dan 2 pun sudah banyak yang pulang. Entah kenapa kok bisa jadi sepi seperti ini? Padahal sebelum anak kelas tiga pada lulus. Sekolah ini selalu ramai walaupun jam sekolah telah usai. Hah! Sudahla sekarang aku harus segera berangkat ke rumah Tante Tati  dan menunjukan hasil ijazah ini kepadanya.

Mobilku pun melaju ke arah pelabuhan sekupang. Disana ada rumah dinas otorita. Tante Tati hanya tinggal berdua dengan suaminya ditambah satu orang pembantu. Anaknya sudah besar-besar malahan sudah berumah tangga. sekarang kedua anaknya tinggal di jakarta. Daerah sekupang ini sangat cocok bagi orang yang sudah pensiunan atau buat orang yang ingin ketenangan. Karena disana memang jauh dari keramaian.

Setelah sampai. langsung kuparkikan mobil toyota hitam ini di garasi. Letaknya pas dibelakang mobil milik Tante Tati. Kumatikan mesin mobil. klek, suara mesin yang bising pun kini hilang. berganti terdengar suara nyaringnya jangkrik-jangkrik. Yah, selayaknya suara dihutan yang luas dan sepi. Maklum saja, di depan rumah Tanteku ini bukan berhadapan dengan rumah lagi. Tapi hutan kecil lebat yang mencuram kebawah. kebanyakan disini ditumbuhi pohon-pohon besar dan tua. yang jadi pembatas hutan ini hanyalah jalan aspal.  Terkadang jika di siang hari monyet juga suka turun ke jalan. Tapi jumlahnya tidak sebanyak waktu aku kecil dulu. Sekarang paling hanya ada lima sampai sepuluh ekor.  Suasana disini sangat tenang tapi bisa dibayangkanlah bagaimana kalau sudah malam tiba.

Tok..tok..tok.. “ Assallamualaikum” Aku pun mengetok pintu yang terbuat dari kayu jati ini. Tak lama berselang, Aku mendengar ada suara langkah kaki dari dalam. Suranya semakin mendekat ke arah pintu. Klek, suara kunci pintu pun terdengar. Menandakan bahwa pintu sebentar lagi akan terbuka.

Sinar matahari yang terang kini akhirnya bebas dan menerobos masuk. ketika pintu setinggi 2 meter ini dibuka. Tampak seorang prempuan berdiri dihadapanku. Mataku seperti buta ketika melihat kedalam. Mungkin karena mataku dari tadi sudah biasa terkena matahari. Dan sekarang harus masuk ketempat gelap. Jadi beginilah dampaknya. Semua objek yang aku lihat jadi gelap semua. Setelah aku perhatikan ternyata ia adalah Bi’ Minah. pembantu baru tante Tati. Rambutnya panjang  sedada dan diikat kebalakang. Dia mengenakan kaos putih bergambar Patung singa dan diatasnya ada tulisan. Singapore. Tanpa aku perkenalkan diri, ternyata pembantu baru ini sudah hafal denganku. kalo ngga salah, sebelumnya aku memang pernah bertemu. Jadi pastilah dia sudah mengenal kalo aku ini keponakannya tante Tati.

Bi’ Minah langsung mempersilahkan aku masuk dan duduk. mengingat dari tadi aku belum istirahat dan sudah lelah. aku pun langsung duduk di sofa yang empuk ini. bahannya terbuat dari kulit yang lembut. Begitu nyaman sampai ke tulang belakang. Aku pun rasanya berat jika harus beranjak dari tempat duduk ini. rasa lelah masih aku rasakan, lalu aku senderkan badan sampai kebelakang.

Sepi dan senyap, ngga terdengar ada suara televisi atau musik sedikit pun disini. Mungkin ini lebih seperti rumah yang ngga ada penghuninya. ruangan keluarganya sangat lega. banyak foto-foto yang terbingkai rapi terpampang di dinding. karpet empuk berwarna krem terbentang luas di dihadapanku. tempatku duduk langsung menghadap ke arah lemari yang sangat besar dan ditengahnya ada sebuah televisi. Di sisi lain dari lemari ini, banyak di isi dengan buku-buku bacaan dan pajangan-pajangan dari negara lain. Disebelah kananku ada sebuah piano besar yang terbuat dari kayu. Kulihat ruangan ini selalu tertata rapi dan bersih.

Tak berapa saat, dari arah kamar. Tante Tati keluar dan menyapaku.

“Eh Anwar! sama siapa kamu kesini?” sapanya

“Sendiri aja kokTante” aku pun bersalaman dengannya

“Kebutalan kamu datang War! Tante baru aja selesai masak. Kamu belum makan kan? Ayo makan dulu”

“Udah kok tante! tadi anwar udah makan sama teman-teman.”

“Ah.. ayolah sedikit aja” Tante Tati pun langsung masuk ke ruang makan.

Hah! Jika sudah begini, Aku paling ngga bisa menolak ajakan tanteku. Yah sudahla. masa aku baru datang langsung pamitan lagi. Ga enak juga, pikirku singkat. Aku pun megikutinya dari belakang dan masuk ke ruangan makan. Aku lihat Tante Tati sedang sibuk menyiapkan piring buatku. Aku hanya disuruh duduk, karena semuanya sudah tetata rapi di atas meja makan. aku pun duduk diam menghadap ke arah kolam ikan. Ketika melihat kolam itu, aku jadi teringat waktu kecil. Aku pernah  ngasih makan ikan yang sampai over dosis. Kebetulan waktu itu kolamnya penuh dengan ikan-ikan KOI yang harganya selangit. Jadi kenyang ngga kenyang, pasti ikan koi selalu bergrombol dan memocongkon mulutnya ke permukaan. Karena aku pikir ikan-ikan itu kelaparan. Jadi setiap melihatnya seperti itu aku langsung memberinya makan. kalau dihitung mungkin dalam satu hari. aku bisa ngasih makan sampai empat kali dalam jumlah yang banyak. Hingga pas malamnya tiba, orang rumah pada kebingungan setengah mati. Karena mereka mendapatkan ikan KOI ini sudah pada ngapung semua. Alias pada mati. Aku yang mengetahui hal itu langsung diam tak bersuara. itulah masa kecilku yang ngga akan bisa dilupakan.

Aku lihat tampaknya tante Tati sudah makan sebelumnya. Karena sekarang dia hanya duduk di depanku tanpa ikut makan. Dia hanya menemani dan mengajaku ngobrol saja. Sambil makan aku pun langsung memberitahu tentang ijazah yang baru saja aku terima ini.

“ Ow iya. Tante! ini ijazahnya baru bisa diambil sekarang.” Sambil kusodorkan berkas-berkas ijazahku. sebelumnya tante Tati memang sudah meminta, jika aku sudah mendapatkan ijazah nanti, agar segera langsung memberitahunya. Maka sekaranglah waktu yang tepat, jika ditunda besok. sudahla ngga mungkin. Karena nanti malam aku juga sudah di Bandung.

“Oh ini ijazah kamu udah keluar ya War?” sambil memegang ijazahku dan

Melihat isinya.

“ Iya tante, sebenernya ijazah ini belum bisa dibawa. tapi setelah dinego ternyata

bisa ” aku pun melanjutkan makanku

Setelah beberapa saat melihat bolak-balik lembaran yang dipegangnya.

“Wah, Alhamdullilah. bagus-bagus juga ya nilai kamu, Anwar? Trus kamu jadi ya

berangkat ke Bandung hari ini?” sambil melihat kembali nilai ijazahku yang dipegangnya.

“Iya Tante! Anwar jadi kok berangkat hari ini. Pesawatnya nanti berangkat yang

jam 5 sore. ”

“Surat-surat dan berkas-berkas sudah kamu siapin semua belum? Jangan sampai

ada yang ketinggalan lho!”  tante pun menasehatiku

“Udah semua tante! palingan sekarang yang belum itu, tinggal ngambil legalisir

Rapor aja ”

Setelah makanku habis. Aku pun langsung memintanya untuk bisa numpang shalat dzhur disini. Mengingat waktu yang tak banyak lagi. dan aku pun tak ingin nantinya jadi ada yang terbengkalai jika berlama-lama disini. Segera saja setelah semuanya selesai, aku langsung berpamitan dan memohon doa restu dari tante Tati.

Walaupun aku hanya sebentar disini. Tapi yang penting aku sudah ketemu dan berpamitan dengannya. cukup lega hatiku, karena tugasku kini sudah berkurang satu lagi. Palingan sekarang aku akan kembali ke sekolah  dan tinggal melegalisir rapor. Setelah itu, tugasku selesai dan pasti aku akan punya banyak waktu lebih untuk berjumpa dengan Annisa. Aku pun tersenyum jika sudah mengingatnya.

Segera kulangkahkan kaki ini menuju ke tempat mobilku diparkir. Setelah sampai di pintu masuk, langsung kumasukan kunci ini kelubangnya. klek..klek… kuputar sekali lagi  klek..klek.

HAAA!!! Mukaku kembali berubah pucat pasi. Kuterdiam dan termenung. Telah berulang-ulang aku putar kunci ini. Ke kiri dan ke kanan. Tapi tak urung juga pintu ini mau kebuka. Hah, cobaan apalagi ini? dalam hatiku berkata. kenapa ini semua terjadi disaat aku sedang buru-buru! Kenapa ngga kemaren-kemaren saja hal ini terjadi!

Melihat Aku yang terdiam dan tak segera masuk juga ke mobil. Tiba-tiba dari arah dalam terdengar ada suara yang sudah tak asing lagi ditelingaku.

“Kenapa War? Kok kamu belum berangkat juga?”  Dengan punuh rasa heran ia bertanya kepadaku. Karena sejak tadi aku hanya berdiam diri saja.

“Pintunya rusak Tante. Ngga bisa dibuka sama sekali” Aku pun coba melihatkannya kepada tante Tati. dengan mengotak atik kunci ini dipintunya. rasa kebingungan serta kecewa atas kerja bengkel berusan. tak mungkin aku tunjukan di depan tante tati. Aku hanya bisa tersenyum kecil dihadapannya dan tetap melanjutkan semua ceritaku tentang pintu yang rusak ini.

“Kok kuncinya bisa jadi loss gitu? Kalo buka dari remote nya gimana, ngga bisa juga, War? Tante tati pun memberikan saran

Remote kuncinya dah lama ga bisa dipake Tante.”

“Terus, kamu udah coba untuk buka pintu yang sebelahnya?

“Udah, tapi ga bisa juga.”

“Yaudah War! Kamu kan sekarang sudah mepet banget waktunya. Belum ngurus-ngurus rapor, barang-barang kamu dan persiapan buat ke Bandung nanti. Dari pada ngga terkejar. Mendingan sekarang kamu berangkatnya pake mobil Tante aja nih!” sambil menunjuk kearah mobil Nisan berwarna hitam. Letaknya pas di depan mobilku tapi disebelah kanannya.

Aku pun terdiam berpikir sesaat. Dan tiba-tiba aku punya niat untuk bawa pak Bahdur itu kesini lagi.

“Tante! Anwar pinjem mobilnya sebentar buat nyari tukang bengkel aja ya?”

“Loh, bawa aja, ntr kamu telat lagi pake nyari-nyari bengkel segala.”

“Ngga!tempatnya dekat kok, Disungai harapan. Anwar juga udah tau bengkelnya” Aku pun kembali menjelsakannya

“Ow yaudah, kalo emang kamu udah tau tempatnya. Nih bawa aja mobilnya”

Setelah mendengar jelas semua ceritaku. Tante Tati langsung pergi ke dalam untuk mengambil kunci mobil. ketika sepintas mataku melihat mobil Nissan ini. Aku pun sempat terdiam sebentar. Teringat, karena mobil yang akan kubawa ini adalah mobil manual. Sedangkan Aku! sudah lama sekali tidak pernah mengendarai mobil manual. Tekhik-tehknik nya juga aku sudah lupa. Mungkin terakhir aku bawa ketika masih duduk di kelas 2 SMP. Setelah itu mobil yang aku kendarai otomatic semua sampai sekarang.

Tapi karena sebuah keadaan yang mendesak inilah. Yang akhirnya membuatku jadi berani dan penuh keyakinan. Bahwa AKU BISA! karena Jika aku berpikir bahwa aku tidak bisa. Itu hanya akan mempengaruhi dan mengunci segala kemampuan yang ada. pada akhirnya aku akan benar-banar menjadi tidak bisa. Karena, Manusia itu adalah apa yang mereka pikirkan tentang dirinya.

Tak lama kemudian. Tante Tati datang menghampiri sambil menyerahkan kunci mobil. aku pun menerimanya. lalu kunaiki mobil sedan Nissan keluaran tahun 90an ini. Dengan penuh keyakinan kunyalakan mesin. lalu kutahan pedal kopling dalam-dalam. kemudian kurubah personeling dari netral ke gigi mundur. Hah.. Aku cukup grogi juga ternyata. Tapi Aku anggap itu adalah hal yang wajar.

Perlahan kuinjak pedal gas dengan kaki kanan. Pelan dan dengan sangat pelan kutekan. Berbarengan dengan kulepas sedikit demi sedikit kaki kiri. yang sejak tadi kuletakan di pedal kolpling. Dengan keseimbangan diantara keduanya. Akhirnya mobil pun dapat aku keluarkan dari garasinya, hfff.. lega rasanya hatiku, walaupun mesin mobil sempat beberapa kali bergetar dan hampir mati. gara-gara aku masih kaku dalam menyeimbangkan antara gas dan kopling. Tapi itu semua udah bisa aku atasi.

* * *

4. Perpisahan Yang Salah

Kembali aku parkirkan mobil Nissan hitam di gerbang samping sekolah. Tujuanku kali ini. Untuk mengambil rapor dan melegalisirnya. Sekalian setelah itu Aku juga ingin menemui Annisa. Karena ini adalah hari terakhirku. Aku Ngga tau kapan aku akan bisa bertemunya lagi. Tempat pertama kali aku tuju adalah Ruang guru. Yang letaknya tak jauh dari tempatku parkirkan mobil. aku pun segera langkahkan kaki ini ke sana.

Setelah sampai, tampak terlihat sepi sekali disini tak ada seorang guru pun yang ada. Yang kulihat di ruang guru. hanyalah teman-temanku sendiri. Dody, Citra, Anya, Ane dan seseorang yang aku harapkan sejak tadi. Annisa. ternyata dia juga ikut bantu menyusun berkas-berkas disini. Sungguh senangnya hatiku. Bisa berjumpa dengannya disini. Anya adalah kakak prempuan Anisa satu-satunya. Dan ia sugguh sangat dekat denganku. Sampai-sampai, banyak orang yang mengira kalau aku ini jadiannya sama kakanya. Bukan sama Annisa.

Aku sangat geli jika membayangkan hal itu. Memang jika kita sedang jalan rame-rame. Pasti aku lebih dekat jalan dengan kakaknya. Sedangkan dengan Annisa nya sendiri, kita malah lebih kelihatan seperti orang yang ngga saling kenal. Hah, Aku juga ngga tau kenapa bisa kayak gitu. Cukup sedih jika mengingat hal tersebut. Yah mungkin itu memang sudah jadi resikonya orang pacaran. Pasti ada aja yang ngga bisa diterima dengan akal sehat. Ketika belum tau tentang perasaan masing-masing. Semua bisa lebih terbuka dan bisa lebih enjoy. Tapi setelah tau tentang perasaan masing-masing. Semua itu berubah. Agak lebih tertutup, dan susah untuk memulai.

Rupanya kadatanganku. Sudah ditunggu sejak tadi oleh mereka.

“Gimana Mas! Kerumah Tantenya udah?” Annisa menanyaiku, sambil sibuk membereskan berkas-berkas punya kakaknya.

“Udah kok Sa! tapi..”

“Tapi?? Tapi kenapa Mas?” Annisa pun bertanya penuh keheranan.

“E..ee.. Mobilnya terkunci lagi Sa!” Aku pun hanya bisa tersenyum saat memberitahunya.

“Haaa!! Seriuss War!!!” Tiba-tiba suara kaget keluar dari teman-temanku yang lain.

“Heheehe, iya beneran woy!” seperti biasa aku selalu bersikap tenang di depan mereka. karena kalo sampe aku lihatkan kegelisahanku ini. Pasti mereka bakalan ikut cemas.

“Duh nasibmu War! War.. Apes banget hari ini. Baru aja tadi mobilnya dah bener. Eh sekarang terkunci lagi. Kayaknya kamu emang ngga diizinin sama ALLAH deh ke Bandung. Udah deh War! Mendingan batalin aja ke Bandungnya hehe.”  dody pun seperti biasa selalu ngga pernah serius. Becanda aja. Tapi dengan candaannya itulah yang membuat aku agak sedikit lebih tenang.

“Terus sekarang mobilnya dimana War?”

“Di rumah Tante”

“Nah terus kesininya tadi pake apa?”

“Pake Unta!Yah pake mobillah bro! hehehe. Tadi Tante minjemin mobilnya ke aku” aku pun bales gurauannya yang tadi.

“Oh iya Anya! Gimana legalisir rapor kita. Udah belum?” Aku pun lansung bertanya ke Anya.

“Tadi sih udah dimasukin ke ruang tata usaha. Tapi kalo udah ato belumnya. Anya ngga tau War! Coba aja cek lagi kesana. Yaudah kalo ngga kita bareng aja kesananya. Kita juga udah pada beres kok disini.”

“Boleh tuh! kalo gitu sekarang kita langsung kesana aja”  aku pun menyetujui ajakan anya.

Empat belas empat puluh menit. Jam sudah menunjukan bahwa waktuku kini sudah tak banyak. Sedangkan Aku masih ada 2 tugas lama dan 1 tugas baru. Ya, tugasku yang baru itu adalah bagaimana caranya agar mobilku yang terkunci bisa segera aku bawa. Selebihnya tugasku hanya tinggal mengambil legalisir sama kerumahnya Annisa. mudah-mudahan saja semua lancar dan ngga ada halangan lagi. Pikirku berharap.

Aku pun segera bergegas pergi ke ruang tata usaha. letaknya tak jauh dari sini. Palingan 20 meter dari ruang guru. Ruangan tata usaha berhubungan langsung dengan ruang kaca. Jadi kalo mau kesana. Aku harus melewati ruang kaca ini terlebih dahulu.

Sampai diruang tata usaha. Aku langsung menghampiri petugas yang menjaga hari ini.

“Permisi Mba’!”

“Yah”

“Saya mau ngambil Legalisir rapor”

“Atas nama siapa?”

“Atas nama ANWAR HABIB AZHARI. Mba’!”

“Sebentar ya, coba diliat dulu.” Petugasnya pun mencari di tumpukan-tumpukan kertas. di atas mejanya. Lalu masuk ke ruang kepala sekolah dan kemudian keluar lagi.

“Gimana Mba’! Punya saya udah belum?” aku pun sudah tak sabar ingin segera mengambilnya. Karena setelah ini aku harus segera kembali ke bengkel lagi.

“Duh.. Maaf De! Punya kamu belum sempat dilegalisir. Tadi Ibu kepala sekolahnya keburu pergi.”

“Pergi!! Udah pulang! Maksudnya Mba?” aku pun kaget mendengar kalo ibu itu sudah pulang. Hah kalo itu emang benar, habislah aku!

“Bukan pulang! Tapi sedang ada acara Dinas. Kamu tunggu aja. Nanti Ibunya juga balik lagi kesini”

lega rasanya. Cukup tenang ketika aku mendengar pernjelasan darinya. Aku cuman sedikit bingung aja. Karena, semua yang sudah aku atur draft nya. Ternyata tak ada satupun yang sesuai dengan harapan. Hampir semua pada melenceng dari prediksiku. Banyak kejadian-kejadian yang terjadi diluar dugaanku. Kapan Ibu kepala sekolah akan kembali pun. Tidak ada yang bisa memprediksikannya.

Hah.. Ngga mungkin. Jika aku harus menunggu disini. Waktuku pasti akan terbuang begitu saja. Aku harus memanfaatkan sisa waktu ini dengan sebaik-baiknya. Akhirnya aku putuskan untuk kembali ke bengkel. Aku harus bisa menemukan Pak Bahdur segera mungkin. Karena dialah yang tau kenapa mobil itu rusak lagi.

Di ruang kaca. Tampak wajah teman-temanku yang sudah mulai kecapean. Mereka sudah menungguku sejak tadi. Lalu kuceritakan pada mereka. Bahwa Aku harus segera mengurus mobilku lagi.

“Gimana War! Udah di Legalisir sama Ibu, belum?” Anya langsung menanyaiku.

“Huh! Belum uy.”

“Nah lho! Koq masih belum juga War?” temen-temenku yang lain pun ikut heran

“Iya, Ibunya lagi ada acara dinas. Jadi belum sempat dilegalisr”

“Terus gimana donk War!”

“Yah, sante aja lah. Aku palingan mau balik kebengkel dulu. Ngurusin mobil. Ntar kalo udah beres mobilnya. Baru Aku balik lagi kesini.”

Setelah berbincang sejenak. Tiba-tiba kulihat mereka jadi aneh.

“War !.. ee.ee”   bicara dody pun jadi terbata-bata

“Apa ma men?”  balasku santai

Aku pun jadi makin heran ngeliat tingkah dody yang aneh.

“Gini War! Kayaknya kita ngga bisa ikut nemenin kamu. Soalnya sekarang udah hampir sore. aku juga harus ngantar citra ke tempat tantenya.”

“Oh.. Iya, Ngga apa-apa kaleee. Masa kalian mau nguntit aku terus sih? Hehe.”

“Bnerean nih War! Sory banget aku ngga bisa nemenin kamu”

“Yee sante aja, dibilangin ngga apa-apa kok. Mangnya Gw cowo apaan sih kudu pake ditungguin segala. hehehe” Aku pun becanda sambil meyakinkan mereka.

Tiba-tiba Anya melihat ke arah adiknya. Annisa.

“Ade!”

“Ade, Mau nemenin kak Anwar atau balik bareng kita aja” Anya pun menanyakan ke Annisa.

Ketika mendengar hal ini. Aku sungguh deg-degan menunggu jawaban dari Annisa. Aku sangat berharap dia mau menemaniku. Mengingat sekarang adalah hari terakhirku bisa ketemu dengannya. Ketika Anya bertanya hal ini ke Annisa. Aku langsung mengalihkan pandanganku ketempat lain. Bukan aku ngga mau Annisa, tapi aku ngga sanggup jika harus melihatnya. Ntah la, kenapa aku bisa kayak gini.

Lalu aku coba beranikan diri untuk melihat ke arah Annisa. Dan mengen tahu apa jawaban darinya.

“Hmm..ee..ee. Annisa ikut pulang sama kakak aja ya”  Annisa menjawab sambil melihat ke arahku.

“Pulang…” aku hanya terdiam dan berkata dalam hati. Aku sungguh kaget ketika mendengar ia mau pulang. dan tak mungkin jika aku harus memaksanya.

“Ngga apa-apa kan. Nisa,pulang Mas ?” Annisa pun kembali menatapku sembari menunggu jawaban.

“Oh iya. Ngga apa-apa kok. Kamu kan juga pasti udah kecapean. Mendingan sekarang kamu ikut pulang bareng ma kak dody aja” Kembali aku bersikap tenang. Rasa kaget dan sedih,  aku tutup dengan tersenyum.

“Beneran Mas, ngga apa-apa Nisa tinggal nih?”  Annisa masih belum yakin atas jawabanku yang pertama. Terlihat dari matanya yang masih khawatir melihatku.

Aku hanya tersenyum menatapnya dan menganggutkan kepala. Sebagai isyarat kalau aku membolehkannya pulang duluan.

Ternyata rasa cemas dan kebingungan yang dari tadi aku sembunyikan. Akhirnya dapat dibaca oleh dody dan Annisa. Padahal aku sudah menutup-nutupinya dengan senyum dan tidak bertingkah yang aneh-aneh. Kesedihanku ini mulai keliatan sejak tau kalau Annisa mau pulang.

Akhirnya tiba juga saat perpisahanku dengan mereka disini. Aku sama sekali ngga akan pernah tau. Kapan dan dimana aku bisa jumpa mereka lagi. Apakah setelah aku lulus nanti? Hah, sedihnya. Ternyata waktu ini datang juga.

“War, Kami pulang duluan yah! Jangan lupa sama kami kalo udah sampe di Bandung”  sapa mereka sambil menyalamiku sebelum kita benar-benar berpisah.

Wajah sedih Dody. Sang sahabat terbaikku sudah tidak bisa disembunyikan lagi. matanya basah seperti menahan air mata. Suaranya bergetar ketika mengucapkan salam pisah denganku. inilah yang mungkin dirasakan oleh semua orang jika akan berpisah dengan sang sahabatnya. Untuk pertama kalinya, Aku pun mersakan sedih sepertinya. Harus berpisah dengan sang sahabat.

“Iya, makasih ya Bro! Aku ngga bakal mungkin bisa lupain persahabatan kita ini. Suatu saat pasti kita bakal bisa berkumpul seperti sedia kala lagi. aku yakin itu.”

Seperti biasa, orang yang terakhir pamitan denganku adalah Annisa.

“Mas, Nisa mau pamitan juga. Maap ya nisa ga bisa nemenin kamu sekarang!”   mendengar suaranya yang lembut, keluar dari bibirnya. Aku pun jadi semangat lagi. melihat matanya yang teduh, membuat panas yang begitu terik pun disulapnya menjadi kian sejuk. Dia begitu anggun jika mengenakan kerudung yang besar seperti itu. Menutupi bagian kepala hingga badannya. Lengan baju yang panjang hampir menutupi seluruh pergelangan tangannya. Semua bagian tubuh telah ia tutup sesuai dengan anjuran Islam.

Dengan berbusana seperti ini. dia tampak sangat manis sekali. Gadis mana pun pasti akan kalah jika dibandingkan dengannya. Mungkin ini adalah salah satu kelebihan. Aura yang keluar terpancar begitu mempesona dari balik busana muslimnya. Dia begitu berbeda dengan gadis lain pada umumnya. Banyak orang yang hanya lebih memenonjolkan aurat ketimbang untuk menutupnya!

Entahla, Aku hanya berpikir. Jika orang yang biasa saja akan manis jika ia berkerudung. Apalagi orangnya yang emang manis. Pasti ia akan tampak lebih begitu mempesona jika mengenakannya. Kenapa masih banyak yang begitu takut untuk menutup aurat? Padahal itu akan mempercantik dirinya. Dan dirinya pasti akan selalu terjaga oleh busana muslim.

:: Tak kan ada seorang pun yang bisa menandingi keanggunan seorang wanita berkrudung::

“Iya ga pa-pa, sante aja. Ow iya Nisa! Ntar klo dah beres, Mas mau mampir ke rumah kamu dulu yah?”  Aku pun menjawab kekhawatiran Annisa barusan. Dia ngga enak karna udah harus pulang duluan.

“Iya boleh Mas. Nanti kalo dah nyampe depan rumah. Kamu sms Nisa aja ya.”  Dia pun tersenyum manis dengan busana muslim yang ia kenakan.

“Sip!”

Annsia pun kini sudah pergi menyusul dengan yang lain, ke mobil Dody. Mobil mereka parkir dilapangan bawah. Pas disebelah lapangan Upacara. Dekat gerbang pintu utama. Sedangkan Aku parkirkan mobil di gerbang pintu samping. Karena mobil aku dan dody diparkirkan ditempat yang berbeda. Jadi kita ngga bisa pergi bareng. Aku hanya bisa melihat mereka dari ruang kaca. Pergi dan berpisah sudah tak bisa terelakkan lagi. Kini mobil mereka pun perlahan-lahan menghilang dari jarak pandanganku. Menembus pepohonan dan terhalang oleh arah. Yah, sekarang aku sudah tak bisa melihatnya. Selamat tinggal teman! Aku pasti akan merindukan kalian. Pasti! Yah pasti suatu nanti. Waktu itu kan datang. Dan kita akan kumpul lagi.

Segera aku menuju ke tempat mobilku diparkir. Dan melupakan sejenak perpisahan yang baru saja aku alami tadi. Kini tujuanku selanjutnya adalah tempat bengkel. Kemudian setelah itu aku harus membawa Pak Bahdur, mekanik mobil itu ke tempat Tante Tati. Dialah orang yang satu-satunya tau. Kenapa pintu mobilku rusak, karena sebelumnya dia sendri yang mengotak-atik pintu keramat itu. Yah mungkin, secara ngga sengaja dia telah lupa akan sesuatu. Sehingga pintu mobil Toyota hitamku yang sekarang ini. Jadi ngga bisa dibuka lagi.

Sudah banyak waktu yang terbuang begitu saja. Aku sangat menyayangkannya. Kejadian yang ga penting banyak memakan lahap atas waktu luangku. Mestinya sekarang mungkin aku sudah bisa santai dan beristirahat. Duduk di atas kursi yang empuk. Sambil mendengarkan lantunan musik yang tenang. Ditambah segelas es jeruk manis dan sepiring coklat chip. Pasti nyaman sekali rasanya jika itu terjadi.

Tapi, inilah dunia nyata! Tak ada hal yang kita tuju akan mulus sesuai dengan harapan. Bergulir seperti khendak hati. Yah ini bukan seperti dunia seni. Yang bisa terlukis sesuai khendak kuas. Mengambarkan keinginan hati sang pelukis. Sudahla, Pintu itu berhasil atau tidaknya, itu urusan belakang. Sempat atau tidaknya waktu, itu juga urusan belakang. Yang penting! sekarang Aku harus tetap berusaha dan tetap mencoba  Pikirku singkat.

Aku pun kini sudah sampai ditempat bengkel yang sebelumnya sudah aku datengin itu. Segera kucari pak Bahdur sampai ke dalam bengkel yang berukurang kecil ini. Sesosok tinggi hitam besar. Tiba-tiba menyapaku dengan akrab.

“Hai Mas!” Pak bahdur menyapaku sambil keheranan melihat Aku balik lagi dengan kendaraan lain.

Langsung saja kuutarakan maksud dan tujuanku kesini.

“Pak, Pintunya yang tadi dibenerin kok sekarang malah jadi ngga bisa dibuka?” Aku sambil jalan mendekatinya.

“Pintu? Ngga bisa dibuka gimana Mas?” tanyanya heran

“Iya, sekarang kuncinya jadi Loss, diputar-putar juga ga ngaruh apa-apa. Pintunya tetap ngga bisa dibuka!”

“Duh Pak! Saya lagi buru-buru ngejar waktu nih! Bapak ikut saya aja sekarang ya!” Akupun langsung melanjutkan pembicaraan.

“Boleh,boleh.. mobilnya sekarang dimana?”

“Mobilnya sekarang ada di tempat Tante saya. di Sekupang.”

Setelah aku jelasin semuanya. Pak bahdur pun setuju untuk ikut denganku. Segera ia ambil peralatan. Sebuah tas jin-jing yang terbuat dari kain berwarna biru dibawa olehnya. Tas itu warnanya sudah ngga bersih lagi. kucel. Banyak bercak-bercak hitam yang ikut mewarnai tas itu. Maklum sajalah, namanya juga tas peralatan bengkel. Pasti sudah akrab dengan noda-noda Oli. Kembali Pak Bahdur membawa seorang assitant bersamanya. Tanpa mengulur waktu kita pun segera berangkat.

* * *

5. Dia Datang Lagi

Sampai di garasi tempat tante Tati. Aku langsung menunjukan mobil Toyata hitamku yang macet ini. Seperti apa yang aku kabarkan ke mereka sebelumnya. Pak Bahdur pun langsung melakukan cek kerusakan. Pak bahdur berdiri pas di depan pintu mobilku yang macet. Dia memasukan kuncinya kelubang pintu. Lalu diputar kekiri dan kekanan. Untuk meyakinkan kerusakannya apa? Ia memutar-mutar ulang dan coba untuk menarik gegangan pintu. Setelah melakukan beberapa pengecekan. Pak bahdur pun mengatakan kalo ada penghubung pintu yang lepas. Apapun itu, aku sama sekali ngga ngerti. Aku belum pernah memperbaiki pintu sendiri. Kalo hanya sekedar membongkar sih aku bisa!

Pak Bahdur dan assistantnya langsung beraksi mengerjakannya. Sebuah logam panjang seperti penggaris itu kembali ia keluarkan dari tasnya. Aku masih ingat! alat itu buat apa. Yah alat itu buat membuka pintu tanpa harus menggunakan kunci. Aku juga sering melihat hal ini di tivi. Dari dulu aku emang udah penasaran ingin tahu. Bagaimana cara untuk menggunakannya. Akhirnya hal ini baru kesampaian sekarang dan objeknya pun ternyata mobilku sendiri. Alat itu dimasukan kesela-sela antara jendela dan kusennya yang langsung berhubungan dengan pintu. Dengan posisi ke arah bawah. Tepatnya dimana letak kunci pintu berada. Alat itu digerak-gerakkan ke atas dan kebawah. sekali-kali juga digerakkan kesamping. Sampai menemukan posisi yang pas. Alat itu ditekan kebawah sampai bunyi klek! Sebagai pertanda kalo kuncinya sudah terbuka.

Medan pertama telah berhasil dilewati. Pintu sudah bisa dibuka. Kini tinggal memperbaiki penghubung pintu yang lepas. Entah apakah ini bisa segera cepat beres atau malah membutuhkan waktu paling lama. Aku ngga tau. Hanya terus berharap, agar mereka bisa lebih cepat lagi mengerjakan ini. Aku tak bisa beranjak dan jauh dari mobilku. Mataku tak pernah lepas dari jam dan para mekanik ini.  Aku tahu bahwa ini tidak akan merubah segalanya tapi setidaknya aku bisa menggedor kinerja mereka.

Karena jika manusia telah merasa “diawasi” pasti kemampuan mereka akan bisa sampai ketingkat yang lebih. Bahkan maksimal. Ketimbang dengan manusia yang tidak ada rasa “diawasi” semua serba bebas dan sekhendak hati. Sehingga kerja mereka pun tak pernah maksimal. kebanyakan manusia yang seperti ini. agar bisa sampai ketingkat  yang maksimal. mereka harus berhadapan dengan penghujung waktu. Barulah mereka termotivasi.

Body pelapis bagian dalam pintu ini pun dilepas. Sekarang pintu mobilku hanya tampak kerangka-kerangkanya saja. Seluruh isi bagian pintu kini bisa terlihat. Banyak kabel-kabel yang saling menyilang. Kawat-kawat penggerak pintu dan kaca pun bisa telihat jelas disini. Seperti tampak takjub jika bagi orang yang belum pernah melihat hal ini.

Pak Bahdur mengotak-atik dan memindahkan sebuah kawat ke tengah. Aku ngga tau itu fungsinya untuk apa. Barangkali, itu penghubungnya yang lepas. Setelah terpasang pak Bahdur berdiri dan mengunci pintu. Lalu coba membukanya dengan menggunkan kunci mobil. Setelah diputar. Dan klek! Ternyata kuncinya sekarang sudah bisa dibuka lagi. Hah! Alhamdullilah, aku pun tarik napas dalam-dalam. Untuk meyakinkannya. Kini aku yang langsung mencobanya sendiri. Aku kunci dari dalam lalu kubuka dengan kunci mobil. Dan klek! Pintu pun bisa dibuka. Betapa senangnya, akhirnya rintangan menuju Bandung pun telah berhasil aku lewati lagi.

Sebelum pergi. Aku masuk kedalam rumah untuk berpamitan dan mengucapkan terimaksih kepada Tante Tati. Atas mobil yang dipinjaminnya barusan. Aku harus terlebih dahulu ngantar pak Bahdur dan assistantnya ini ke Sungai Harapan. Maklum saja, disini jauh dari kendaraan umum. Barulah setelahnya aku kembali lagi ke sekolah buat ngambil legalisir.

Mobil Toyata pun aku kebut ke arah bengkel pak Bahdur. Kembali aku lewati jalan satu arah yang lurus dan panjang ini sampai ke tempat bengkel pak Bahdur. Setelah sampai Aku turun dari mobil dan coba menanyakan. Apakah aku harus membayarnya lagi?

“Pak, gimana ini. Saya jadi nambah berapa?” Sembari aku berharap bisa geratis. Karena dia juga kan yang buat jadi rusak.

“Yah berapa ajalah Mas, paling uang rokok kita aja bedua.” Sambil menunjuk dirinya sendiri dan assistantnya yang masih muda.

Hah kalo udah begini! Aku jadi makin bingung. Berapa ongkos yang sepantasnya mesti aku bayar. Sepertinya aku harus Gambling saja. ku rogoh kocek celana. Memilah dan meraba-raba uang yang ada di dalam. Aku ingat didalam ada uang lima puluh ribuan, seribuan, sepuluh ribuan dan dua puluh ribuan. Hah nyesal kenapa tadi ngga aku masukan dalam dompet saja. Pasti aku lebih mudah untuk memilihnya. Aku sama sekali ngga tau berapa nominal uang yang aku raih ini. Perlahan-lahan Aku keluarkan uang ini dari saku Berharap yang keluar adalah angka yang kecil. Setelah aku lihat ternyata yang keluar adalah uang dengan khas warna hijaunya. Dua puluh ribu rupiah.

“Pak ini ongkos perbaikan tadi.” Aku pun menyerahkan uang ini ke pak Bahdur.

“Ok Bos!” pak bahdur menerimanya dengan senang hati.

Sebelum berangkat dan beranjak dari tempat bengkel ini. Aku pun coba ingat-ingat lagi. Apa saja yang harus aku kerjakan lebih dahulu. Karena aku ngga ingin ada yang kelewatan lagi. Aku lihat draft. Ternyata tugasku kini tinggal mengambil rapor. Lalu selanjutnya. Tugasku tinggal memberikan gift yang terakhir ini untuk Annisa. Aku sengaja ngga ngasihnya sekaligus sama yang bingkisan oren tadi. Menurutku ini adalah gift yang spesial. Setelah itu tugasku selesai dan aku dapat dengan tenang untuk meninggalkan kota Batam ini.

Tiba-tiba Kutersentak kaget dan terbangun dari lamunanku. Aku coba meraba-raba saku celana dan Kurogoh sampai kedalam. Aku keluarkan semua isinya. lalu kutarik kain bagian dalam saku hingga keluar. Tapi ternyata ngga ada. Kebingungan dan rasa gelisah kembali meyerangku tiba-tiba. Kapan pun bisa muncul, dia tak mengenal waktu. Keringat cemas pun mulai keluar dari atas sampai ke wajahku. Lalu Kucari tiap-tiap celah dibawah kursi pengemudi. Barangkali ia telah jatuh kebawah. Tapi ternyata kosong, tetap aja tidak ada apa-apa.

Hape Siemens ku kini sudah tidak ada. Entah ia hilang kemana pun aku ngga tau. Mencoba untuk lebih sedikit tenang. Agar aku dapat berpikir dan mencari dimana kemungkinan hape itu jatuh. Kudiam tenang sesaat. Mengulang kembali memoriku yang telah lalu. Mengingat-ngingat kejadian dari tempat tante Tati sampai tiba ke bengkel ini. Tapi aku tetap tak bisa memastikannya jatuhnya dimana. Mataku pun tiba-tiba tertuju ke arah saku celana. Ternyata model saku ini miring. Jika aku perhatikan dari modelnya. Cukup ada kemungkinan hape itu untuk jatuh. Tapi aku masih belum begitu yakin. Aku coba memasukan tangan kedalam saku. Dan tak lebih dari pergelangan tangan ternyata tanganku sudah mentok. Setelah aku pikir, sepertinya ini sangat memungkinkan. Jika  hape seberat itu dapat dengan mudahnya untuk terbang bebas jatuh.

Mencoba untuk mencari pendukung kemungkinan lain. Aku pikir ulang. Jika aku sedang berdiri atau sekedar jalan. Rasanya agak mustahil jika hape itu jatuh begitu saja. Dan jika aku merogoh-rogoh kocek terus mengeluarkan sesuatu. Rasanya tetap saja ngga mungkin jika hape itu dengan mudahnya kebawa dan lalu jatuh. Kalau pun jatuh, pastilah aku akan tersadar dengan suara jatuhnya. Tapi sepanjang perjalanan tadi. Tak sedikitpun aku mendengar ada suara yang jatuh ke tanah.

Dengan melihat model saku yang miring dan dangkal ini. Hal yang paling memungkinkan adalah. Jika posisi sedang duduk. Ya benar sekali ! Aku jadi teringat dengan mobil Nissan tante Tati yang sempat aku pinjam itu. Pada saat aku duduk dikursinya. Seperti ada  yang tidak biasa. Posisi tempat duduknya itu agak lebih rendah di bagian pantat. Dengan kondisi tempat duduk yang seperti itu dan dengan ditambahnya model saku yang miring ini. Rasanya inilah tempat yang pantas. Tempat jatuhnya hape Siemens ku.  Mungkin ia meluncur jatuh ketika aku mengankat untuk melangkahkan kaki keluar dari mobil. Seketika itu, Aku pun seperti mendapatkan setitik cahaya dalam sebuah gua. Ya! sebuah harapan kembali menyambutku.

Berarti sekarang, Aku harus segera mengeceknya dan pergi ke rumah tante Tati. Kembali draft yang sudah aku perbaharui kini harus di perbaharui lagi. Padahal sekarang adalah waktunya aku untuk mengambil rapor. Dan pulangnya langsung ketempatnya Annisa. Tapi untuk kesekian kalinya itu tertunda dan tertunda lagi. Hah, berat rasanya hari ini! Sudah berapa kali dan berapa banyak waktu yang terbuang untuk hal-hal yang tidak penting! Tapi Rasa letih yang teramat sejak tadi kupendam. Ternyata tak bisa mengalahkan rasa keinginanku untuk menyelesaikan ini semua dengan tepat waktu.

Akhirnya aku rubah lagi tujuanku. yang sebelumnya ke sekolah. Kini aku akan segera kembali ke tempat tante Tati. Untuk mengecek apakah handphone ku memang benar jatuh dimobilnya.

Tujuh menit perjalanan dari bengkel. Akhirnya aku sampai juga di tempat mobil Nissan hitam itu diparkir. Kumatikan mesin mobil. Dan untuk kali ini, Aku tak berani untuk mengunci pintu. Karena jika pintunya rusak dan tidak bisa dibuka lagi. Maka tamatlah sudah riwayatku.

Ternyata kedatanganku ini sudah ditunggu-tungu. Saat aku turun dari mobil. Aku lihat tante Tati sudah berdiri didepan pintu rumahnya. Aku pun hanya bisa tersenyum kecil lalu menghampirinya. Belum sempat aku mengeluarkan kata. Tiba-tiba tante Tati nyeletuk duluan.

“Ada yang ketinggalan ya?”

Aku tak menjawabnya dan hanya tersenyum geli. Entahla, aku rasanya ingin ketawa melihat diriku sendiri. Sempat-sempatnya diwaktu yang penting seperti ini. Malah aku melakukan kesalahan-kesalahan yang konyol.

Setelah satu meter jarakku dengan tante Tati. Aku lihat di tangan kanannya. Ada sebuah handphone berwana silver yang sejak tadi digenggamnya. Dan ternyata benar! Itu handphone ku yang jatuh.

“Iya Tante! Handphone Anwar tadi ketinggalan di mobil” aku pun menjawabnya setelah melihat handphone ku ada ditangan tante Tati.

Kulihat tante Tati pun mengeleng-gelengkan kepalanya. Tampak heran sepertinya melihat aku bisa sampai ketinggalana handphone. Sambil menasehati kecil. Tante Tati lalu mengembalikan handphone itu kepadaku.

“ Terimakasih Ya Allah, hamba kira handphone hamba telah hilang! ternyata tidak. Rupanya  Engkau masih mempecaryakan handphone ini kepadaku. Aku bersyukur handphone ini telah kembali lagi”

* * *

Astaghfirullah! Betapa terkejutnya aku ketika melihat jam. Ternyata sekarang sudah hampir JAM TIGA LEWAT LIMA BELAS !!! Sungguh gelisah. Ketika Aku melihat waktu yang tinggal beberapa puluh menit lagi. Gimana bisa !!! Aku harus sampai di bandara Hang Nadim itu sebelum jam Lima! Sedangkan sampai sekarang saja. Aku masih belum mengambil fotocopy-an rapor yang aku tinggal di ruang tata usaha.

Dalam keadaan terdesak seperti ini. Sempat terpikir olehku. Bagaimana kalo aku langsung menuju rumah dan berkemas barang saja. Sedangkan rapor itu nanti akan menyusul lewat temanku saja. Hah! Tapi tidak mungkin! Bagaimana nanti aku menjelaskannya kepada mama?

Aku tau ini semua karena menejemen waktuku yang kurang baik. Aku terlalu santai dan terlalu banyak membiarkan waktu berlalu begitu saja! Aku selalu menunda-nunda segalanya dan mungkin kini Allah sedang menegurku. Sudahla! pokoknya aku harus bisa menyelesaikan ini semua! Apapun resikonya nanti. Aku tetap tidak boleh mundur. Dan aku tidak boleh menyerah hanya pada sebuah keadaan! TAPI AKU HARUS BISA MERUBAH KEADAAN !!!!

Jam Empat kurang tiga puluh aku sudah sampai diesekolah lagi. Kini Aku parkirkan mobil di area parkir sekolah. Dekat lapangan upacara. Karena dari sini jarak ke ruang tata usaha lebih dekat. Ketimbang jika aku parkir di gerbang samping. Aku segera menuju ke ruang tata usaha. menaiki beberapa anak tangga yang singkat lalu aku sampai di Ruang kaca.

Aku lihat ada beberapa temanku di ruang kaca ini. yang ternyata sedang menunggu legalisir sama sepertiku. Mereka juga akan segera berangkat meninggalkan kota Batam ini. Hah, Tapi mereka lebih beruntung. Karena pesawatnya mereka bukan berangkat jam lima sepertiku. Tapi besok.

Setelah pembicaran singkat ini. Aku langsung menuju ke ruang tatausaha. Jaraknya hanya 2 meter dari tempat teman-temanku itu menunggu. Di dalam ternyata terlihat sepi. Hanya ada seorang petugas tata usaha dan sebuah komputer yang selalu setia menamaninya. Aku coba lirik ke ruang kantor kepala sekolah. Pintunya tertutup. Ah, barangkali Ibu kepala sekolah lagi sibuk dan ngga mau terganggu. Jika kita hendak masuk ke ruang kepala sekolah. Jalan satu-satunya memang dari ruangan ini.

“Mba! Gimana, legalisir atas nama ANWAR HABIB AZHARI bisa diambil sekarang?” aku langsung menanyakannya, sembari berharap sudah! Dan langsung dapat aku bawa.

“Duh, Belum bisa De! Ibu kepala sekolahnya masih belum pulang dari dinas sejak tadi”

HAAAA!! Alangkah terkejutnya aku. Ketika mendengar penjelasan dari petugas tata usaha itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Sungguh! Aku sama sekali sudah tidak punya banyak waktu. Jika harus menunggu lebih lama. Pasti aku bakalan ketinggalan pesawat. Sedangkan waktu pulangnya ibu kepala sekolah saja. ngga ada yang bisa prediksikan kapan??

Aku mungkin masih cenderung susah dalam mengambil keputusan. Apalagi dalam situasi seperti ini. Apakah aku harus menunggu sampai ibu kepala sekolah itu pulang? Tapi bagaimana kalau sampai jam setengah lima. Ibu itu ngga dateng-dateng juga! Berarti aku telah membuang waktu dengan percuma di sini! Tapi kalau aku pulang, Berarti aku ngga akan mendapatkan legalisir itu sekarang.

Setelah cukup lama mempertimbangkannya. Aku putuskan untuk segera pulang saja. Karena aku pikir,  fotocopy-an ini toh nantinya juga bisa dititipkan ke temenku. Kenapa juga aku harus menunggu yang ngga pasti. Sebelum pulang aku berpamitan terlebih dahulu kepada temen-temenku ini. Mereka tetap akan menunggu sampai ibu kepala sekolah pulang dari dinas.

Segera aku keluar dari ruang kaca dan menuju tempat mobilku diparkir. Tujuanku selanjutnya adalah rumahnya Annisa. Sebelum berangkat ke Bandung. Aku harus sudah memberikan gift terakhir ini kepadanya. Yah aku tau! Sebenarnya aku sudah tidak punya banyak waktu. Untuk mampir-mampir dulu. Karena waktuku kini tinggal tujuh puluh lima menit lagi menuju jam lima tepat. Dengan waktu yang sesingkat itu. Aku harus bisa melewati semuanya. Dari yang pamitan ke rumah Annisa. Beres-beres barang yang harus dibawa ke Bandung. Mandi, Shalat dan yang terakhir ke bandara. Perjalanan jauh ke bandara emang harus ekstra cepat! Untung daerah sana jalannya besar. Satu arah dan sepi.

Sekilas jika Aku pikir. Itu sangatlah mustahil!! Mengingat sekarang saja. Aku masih disekolah. Letaknya sangatlah jauh dari semua tujuanku itu. Aku nyalakan mesin mobil. Lalu kuletakan personeling ke gigi mundur. Karena terburu-buru. Aku jadi tak sempat untuk memutarkan mobil terlebih dahulu. Kubiarkan mobil ini jalannya mundur Sampai keluar gerbang sekolah. Kutancap dengan kecepatan yang tinggi. Yah, begitulah aku!! Aku juga memang dikenal termasuk orang yang suka membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Setiap berangkat ke sekolah pagi-pagi. Ketika ngga sengaja ketemu teman di jalan. Pasti ada saja yang ngajak balap. Ngga cewe ngga cowo sama saja. Mereka suka nantangin. Padahal ngebut-ngebutan di pagi hari. Sangatlah beresiko. Karena bertepatan dengan jam masuk kerja dan sekolah. Pastilah dijalan itu sedang padat-padatnya. Maklum sajalah, Sesusia kita ini yang sekarang emosinya masih labil. Belum bisa memikirkan bahaya-bahaya akan terjadi.

Ketika memundurkan mobil dan hampir melewati pintu gerbang sekolah. Tiba-tiba terlihat di kaca spion. Sebuah mobil semi jeep panjang berwarna putih. datang mau memasuki area sekolah. Mobil semi jeep itu pun tiba-tiba berhenti dekat pintu gerbang. Mungkin, karena melihat mobilku yang mau keluar ini. soalnya pintu gerbang ini hanya cukup untuk dilewati satu mobil. Setelah aku perhatiin semakin dekat dan semakin jelas. Betapa terkejutnya aku! Karena apa yang baru saja aku lihat ini. Rupanya itu adalah mobil Ibu kepala sekolah.

Aku sungguh bersyukur. ternyata aku masih diberi kesempatan sekali lagi untuk mengurus legalisir. Langsung saja aku berhenti dan memajukan mobil ke tempat parkir. Dengan cepat aku berlari mengahampiri ibu kepala sekolah. Kulihat dia baru saja memakirkan dan turun dari mobilnya. Tanpa berpikir panjang, Aku pun langsung mendesak agar ia mau segera melegalisir raporku ini.

“Maaf Bu! Saya mau legalisir rapor dari tadi. Cuman ibunya ngga ada. Jam lima saya harus udah ada di bandara.” Aku langsung menjelaskan kepadanya agar raporku bisa dengan segera langsung dilegalisir.

“Iya nak! Ibu tadi ada acara dinas makanya baru bisa pulang sekarang. Ya sudah, sini rapor kamu mana?” sambil jalan menuju ke ruang tata usaha.

“Udah, udah ada di dalam Bu! Tinggal dilegalisir saja.” sambil aku menunjuk ke arah meja. Tempat raporku disimpan

Petugas tata usaha yang tadi pun kini sudah hafal denganku. langsung saja ia mengambilkan berkas-berkas dan menyerahkannya kepada Ibu kepala sekolah. Alhamdullilah, Akhirnya aku bisa juga membawa rapor ini pulang. Dalam hatiku pun berucap syukur.

Tak lama kemudian. Ibu kepala sekolah keluar dari ruangannya. dengan membawa hasil rapor yang telah ia tanda tangani.

“Ini Nak! Punya kamu. ANWAR HABIB AZHARI kan?” sambil menyerahkan berkas itu kepadaku

“Iya Bu! Benar sekali.” sambil ku pegang berkas yang diberikan ibu itu kepadaku

“Yasudah. Kamu hati-hati berangkatnya. Jangan ngebut-ngebut.” Ibu itu pun langsung menasehatiku

“Iya, terima kasih Bu!”

Aku langsung bergegas meninggalkan sekolah. Dan tugasku yang terakhir adalah tinggal menyerahkan gift ini kepada Annisa. Di jam, sekarang telah menunjukan angka tiga titik lima kosong. berarti waktuku kini tinggal tujuh puluh menit menuju jam lima tepat. Dengan kecepatan tinggi aku lesatkan mobil ini menuju rumahnya Annisa. Dan berharap jalan di daerah baloi ngga macet jam segini

* * *

6.  Sedih yang paling Bahagia

Sekarang aku sudah berada didepan rumah Annisa. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit perjalanan aku dari sekupang ke Baloi. Yah ini adalah waktu yang cukup cepat. Sedangkan rekor tercepat yang pernah kuraih adalah tiga belas menit.

Posisi rumah Annisa ini letaknya di atas. Dasarnya lebih tinggi tiga meter dari permukaan jalan raya. Di bawahnya adalah tembok yang tinggi seperti tebing. Sehingga untuk masuk ke rumahnya. Kita harus menaiki beberapa anak tangga terlebih dahulu. Warna cat oren yang khas selalu melapisi rumah ini. Begitu sejuk jika kita memandangnya. Di bawah rumah ada sebuah garasi yang ditutupi oleh pagar penuh. Letaknya pas di sudut kiri. Sedangkan dua meter ke sebelah kanannya. Ada sebuah tangga yang lebarnya satu meter. Tangga ini juga tak luput dari sebuah pagar besi. Di setiap sudut tangga ada sepasang lampu yang menempel. Tampak indah jika ia menyala di malam hari. Sedangkan akses untuk menuju ke atas ini, aku sebutnya dengan “Tangga berdetak” Kenapa? Karena setiap aku akan bertemu dengan Annisa. Pasti jantungku selalu berdetak kencang, ketika menaiki tangga ini. Dan disinilah tempat bersejarah itu. Tempat dimana pertama kali aku kenal dengannya.

Mobil aku parkirkan di bawah. Mesin aku biarkan tetap hidup. Lalu aku ambil handpone disaku celana.

Assalamualaikum

Wa’alikumussalam Mas!”

“Nisa, Mas udah dibawah nih. Kamu turun yah”

“Iya. Nisa, turun ke bawah sekarang Mas!”

Tak berapa lama setelah aku tutup telponnya. Terdengar suara gesekan besi yang sudah akrab di telingaku. Pintu pagar terbuka. Kulihat di kaca spion mobil. Tampak seorang gadis manis keluar dari balik pagar. Yah itu Annisa. Dia masih mengenakan seragam sekolah. Barangkali, baru pulang. Jadi ia belum sempat ganti baju. Aku lihat dia sudah tampak lelah. Mungkin karena sudah hampir seharian ia di luar terus. Walaupun begitu, wajah manisnya tak pernah tertutup. Entahla, ini mungkin memang kelebihan yang dimilikinya.

Annisa pun masuk ke dalam mobil. Lalu ia duduk di kursi sebelah. Haaah, Sungguh senang sekali. Semua rasa khawatir, takut, dan lelah yang amat teramat kurasakan sebelumnya. Kini benar-benar berubah menjadi sebuah kekuatan, ketika kembali melihat senyumannya yang begitu alami. Seolah aku tidak lagi dikejar oleh waktu. Yang padahal sejak tadi terus menghantui. Rasanya aku tak ingin beranjak pergi dari sini.  Padahal baru beberapa menit saja berpisah. Tapi aku sudah kembali kangen dibuat olehnya. Yah, mungkin yang karena sebentar lagi aku akan benar-benar berpisah jauh dengannya.

“Ya Allah kenapa malah diwaktu terkahir hambaMu ini di Batam, banyak sekali cobaan yang menerpa”

Aku sedikit sedih. Karena di hari terakhir ini. Aku hanya disibukan oleh hal-hal yang tidak penting. Dan itu sudah memakan waktuku berjam-jam. Padahal aku berharap. di hari terakhirku di Batam. Aku bisa lebih santai. Bisa bercanda dengan sahabat-sahabatku. Dan bisa lebih lama lagi bersama Annisa. Hah, Ternyata apa yang aku bayangkan itu sangatlah bertolak belakang. Banyak kejadian yang tidak aku inginkan terjadi. Dan itu semua benar-benar sama sekali tidak ada dalam perdiksiku. Ah! tapi sudahla. Yang penting. Sekarang aku masih dikasih kesempatan untuk bisa bertemu dengan orang yang aku sayang. Toh, lagian aku juga masih bisa memberikan gift ini untuk Annisa. pikirku singkat.

Kali ini aku ingin membicarakan tentang hubungan jarak jauh aku dan Annisa. Dari kemaren sebenarnya aku sudah ingin membahasnya, tapi baru sekaranglah ini bisa kesampaian. Biasanya ketika sedang bicara dengan Annisa. Aku ngga pernah berani untuk memandangnya langsung. kalo iya pernah pun itu ngga lama. Paling aku cuman berani curi-curi pandang saja.

“Nisa, waktu Mas sekarang tinggal lima puluh menit lagi nih sebelum jam lima” terangku kepada Annisa.

“Iya Mas! Tapi kenapa kamu mampir dulu ketempat Nisa. jam lima kan kamu harus udah di Bandara. Memangnya kamu masih sempat ke Bandaranya, kalau sekarang aja kamu ketemu nisa dulu”  Annisa  menasehati sambil menatapku.

“Yah ngga apa-apa. Mas memang harus ketemu kamu dulu Sa! Baru setelah itu Mas bisa berangkat. Lagian ada yang mau Mas mau omongin sama kamu.” Sesekali aku pun menatapnya sekilas.

“Mau ngomongin apa Mas?” dia pun menanyaiku penuh semangat

“Tentang hubungan jarak jauh ini”

“Ow, itu toh! Kirain mau ngomong apa! hehehe”

“Huu dasar kamu ni Sa! Pas kayak gini. Masih bisa aja becanda!”

“Iya, iya maap” ia pun tersenyum.

“Bentar lagi kan. kita bakalan ga ketemu buat waktu yang cukup lama. Nah, Mas mau kita buat komitmen untuk jaga komunikasi. Kamu juga tau kan, kalau komunikasi itu merupakan hal yang paling penting. Banyak orang yang terpecah belah hanya gara-gara selisih paham. Karena apa? Karena komunikasi mereka ngga jalan. Sama halnya dengan hubungan ini. Udahla kita dipisahkan oleh jarak. Terus kalau sampai kita kehilangan komunikasi. Pasti silaturahim kita bakalan ga utuh. Hanya tinggal nama.”

“Iya,iya deh Pak Ustad. Nisa janji. Insya Allah. Nisa, bakalan tetap jaga komunikasi ini.”  Annisa pun menjawab dengan gurauannya yang jago

“Syukur deh. Awas lho ntar kalo ada ribuan sms mas yang masuk. Kamu harus bales semuanya ya. Hehehe”

“Sipp. Tapi kalo Nisa lagi ada pulsa ya mas, hehehe”

“Kamu tenang ajalah Mas! Insya Allah. Nanti kalo udah liburan semester sekolah. Nisa, bakalan main ketempat nenek di Bandung abis itu kita bisa ketemu lagi kan. Tuh gimana, Mas? Kamu udah ngga khawatir lagi khan? Paling tinggal beberapa bulan lagi kok, Mas! Masa nunggu segitu aja ngga sanggup sih. Belum juga disuruh nunggu seabad khan? Hehehe ” dia pun kembali menggodaku

“Iya.Iya deh bu Ustadzah. Pak Ustad sekarang udah agak mendingan kok. Abis yang ngomong Ustadzahnya manis sih. Heheh” aku pun balas menggodanya.

Bagaimana untuk mengatasi hubungan jarak jauh ini pun akhirnya sudah terjawab. Sebenarnya aku masih berat untuk berpisah jarak dengannya. Begitu cepat semua ini berjalan. Sehingga untuk sadar bahwa waktu itu selalu berputar pun cukup sulit. Berlalu, berlalu dan berlalu. Tanpa disangka, ternyata deadline pun sudah didepan mata. Jika waktu adalah KTP. Pasti sudah kuperpanjang waktu ini. Selalu! Dan pasti waktu perpisahan aku dengannya pun bisa ditunda. Tapi untunglah semua keresahanku ini sudah ditepis oleh Annisa. Dia selalu bisa memberikan semangatnya kepadaku. Sungguh beruntung aku bisa kenal dengannya dulu.

Aku juga tak lupa meminta beberapa foto dari handphone miliknya. Jadi kalo tiba-tiba kangenku kumat. Aku nanti sudah ada obatnya. Handphone ku ini hanya bisa transfer data lewat infrared. Jadi dia yang langsung memilihkan dan memindah-mindahkannya ke handphoneku. Aku hanya bisa diam dan terus menatapnya. Subahanalllah, jika dia sedang diam seperti itu. Sungguh manis dan anggun sekali gadis ciptaanMu ini YA ALLAH. Dia begitu natural, polos, apa adanya dan tanpa sedikitpun pake makeup. Aku sungguh beruntung bisa menjadi seorang pemimpin buatnya. Walaupun sebenarnya itu sangatlah belum pantas! Karena belum ada sebuah keterikatan yang resmi dan yang halal.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta

Cintakanlah aku pada seseorang yang

melabuhkan cintanya padamu

Agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta

Jagalah cintaku padanya

agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati

Izinkanlah aku menyentuh hati seseorang

yang hatinya terlarut padamu

agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati

jagalah hatiku agar

tidak berpaling dari hati-Mu

Ya Rabul izzati , jika aku rindu

Rindukanlah aku pada sesorang yang

merindui syahid dijalan-Mu

Ya Allah , jika aku rindu

jagalah rinduku padanya agar

tidak lalai aku merindukan syurga-Mu

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu

janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya

bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh cinta pada kekeasih-Mu

Janganlah biarkan aku tertatih dan terjatuh

dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu

Ya Allah, jika kau halalkan aku merindui kekasihMu

Jangan biakan aku melampaui batas

sehingga melupakan aku pada cinta hakiki

dan rindu abadi hanya kepadamu

”Ya Allah. Biarkanlah agar aku selalu bisa menjaganya sampai kapanpun. Walaupun nanti jika akhirnya dia bukanlah untukku. Aku sangat merindukan seorang wanita yang salihah. Dan jadikanlah dia orang yang agar selalu ingat kepada-Mu”

Annisa adalah satu-satunya wanita pertama yang merubah pandanganku akan kecantikan dan keagungan seorang wanita. Dari dulu aku selalu tertarik dengan wanita yang berparas cantik, manis tapi tidak tertutup dan terlindungi oleh kerudung. Bahkan dulu aku tak pernah sedikitpun tertarik dengan mereka-mereka yang mengenakan kerudung. Tapi entahlah, kenapa semenjak aku bertemu dengannya. Rasa itu kini berubah. Sekarang aku bisa melihat. bahwa mereka yang mengenakan kerudung. Mempunyai sebuah nilai lebih dari mereka-mereka yang tidak mengenakannya. Di mataku, Mereka lebih tampak anggun dengan busana muslim mereka. Aku hanya berharap dia wanita yang aku sayang. Agar selalu bisa terjaga keimanannya.

Jam sudah menunjukan angka empat tiitk dua puluh. Berarti waktuku sekarang tinggal empat puluh menit lagi menuju ke angka lima tepat. Sudah waktunya kini untuk aku, segera bergegas pergi. Karena jika aku masih berlama-lama disini. Pasti aku akan ketinggalan pesawat nantinya. Masih berat sebenarnya untuk aku beranjak. Tapi. Hah! Mau ga mau aku tetap harus pergi.

Sebelum berangkat pergi. Ada tugas utama kenapa aku kesini yang harus teraksana. Yah, aku harus memberikan gift yang sudah dari tadi aku simpan ini kepadanya. Sebenarnya aku cukup takut. Jika ia tidak menyukai apa yang aku beri ini. Apa lagi aku tahu. Kalau Annisa adalah orang yang jarang suka memakai aksesoris-aksesoris kayak kebanyakan wanita lainnya. Tapi aku harus tetap memberikan ini sekarang juga. Aku harap ini bisa jadi kenangan buatnya. Dan mudah-mudahan ini bisa selalu diingatnya kelak. Perlahan aku beranikan diri mengambil bingkisan kecil yang kusimpan disaku.

“Nisa!…”

“Iya Mas!”

“Hmm..”  aku pun masih takut dan deg-deg an untuk mengatakannya.

“Kenapa Mas? Koq ngga jadi ngomong” Annisa menatapku heran dan tersenyum

“E..e.. Sa! ni buat kamu”  sambil aku keluarkan dan kusodorkan sebuah kotak kecil. Berbentuk persegi. Kira-kira tinggi dan lebarnya hanya satu setengah centimeter. Kotak ini Berwarna pink muda. Dan diatasnya ada sebuah pita.

“Apa ini Mas?” tanya nya dengan penuh keheranan.

“Kamu buka aja sendiri. Tapi maaf ya Nisa. Kalau Mas kasih kamu kado ini. Kamu pokonya nggga boleh jadi ilfil. Kalo kamu ngga suka sama kadonya. Kamu langsung buang aja ya”  saking takut dan groginya. Bicaraku pun hampir jadi kalimat baku semua.

Annisa hanya diam kebingunan mendengar penjelasanku barusan. Perlahan untuk menjawab penasarannya. Annisa pun segera membuka kotak kecil yang ada ditangannya itu.

“Hah! APA INI!”

“CINCIN?”

Mendengar nada dia yang tiba-tiba berubah meninggi. Aku pun hanya bisa terdiam saja dan takut kalau dia benaran ngga suka sama apa yang aku berikan ini.

“Ah! Ya udahla! Nisa buang ya sekarang!! sambil menatap keluar jendela.

Aku pun kembali hanya diam tak bersuara. dan aku juga sudah pasrah kalau itu benaran ia buang.

“ Hehe ngga lah Mas! Nisa seneng kok ma cincinnya. Ngga mungkinlah Nisa ilfil. Ini kan pemberian dari kamu. Muka nya jangan cemas gitu donk Mas!” dia pun ternyata kembali menggodaku. Ngga sangka didetik-detik terakhir ini pun ia masih jago untuk membuatku takut.

”Huh! Kamu ini badung bangetlah. Hehe. Makasih ya Nisa! Nanti jangan dijual lagi yah. Abis biasanya kalo ibu-ibu lagi butuh duit. pasti suka langsung ngejual perhiasannya. Ya kan Sa!” Akupun balik menggodanya.

“Ngga akan dijual kok. Kamu tenang aja! Masa Nisa tega sih. Paling digadein. Hehe”  Annisa pun kembali menggodaku.

Segera aku meminta Annisa agar mengajakku ke atas. Untuk berpamitan dengan mama, papanya. Saat kita ingin keluar dari mobil. Tiba-tiba dia kembali menggodaku.

“Mas! Kamu udah punya fotonya YEKIKO belum?” sambil menunjukan handphone miliknya kepadaku.

Sepontan aku kaget! Kenapa dia bertanya seperti itu? Yekiko adalah teman dekatnya Annisa. Satu sekolah dan satu kelas. Terkadang jika aku ingin tahu tentang Annisa. aku memang suka menanyakan hal ini kepada Yekiko. Akhirnya aku pun coba untuk meyakinkan Annisa.

“ Mas dah punya kok foto-foto temen kamu. Lianda, dede, febie juga ada. Jadi ngga usah lagi lah Sa” aku hanya bisa tersenyum menatapnya.

Sudahla aku tidak terlalu ingin memikirkan pertanyaanya barusan. barangkali, dia hanya bercanda. Yang penting sekarang tugasku sudah selesai semua. Paling aku tinggal berpamitan dengan Annisa dan keluarganya di atas.

Mesin mobil aku matikan. Karena aku masih takut. Maka pintu mobil pun kembali hanya aku tutup saja. Bisa berabe! Jika aku kunci tiba-tiba pintunya rusak lagi. Maklum sajalah, karena ini adalah pintu yang sangat kereamat. Jadi biarkan sajalah ini tetap ngga terkunci. Melewati “Tangga berdetak”. Kami berdua pun naik keatas. Setelah sampai diatas. Aku berdiri pas di depan pintu utama. Sebelah kananku ada tempat duduk dan sebuah meja bundar. Semuanya terbuat dari semen. Bentuknya bermotif seperti kayu. dan di atasnya ada sebuah bunga. Aku sering duduk di kursi itu, ketika sedang belajar bareng. dan hampir tiap hari ketika UN aku selalu mampir kesini. Di sebelah kiriku juga ada sebuah pintu. Namun pintu ini bukan menghubungakan kita ke ruang tamu. Tapi langsung ke ruang makan.

“Kak! Ni ada Kak Anwar. Mau pamitan” Annisa memanggil kakaknya sambil berjalan masuk ke pintu ke ruang makan.

Tak berapa saat Anya pun keluar bersama Annisa dari pintu samping.

“Eh War! Udah mau pulang yah?” Anya pun menyapaku.

“Iya Anya. Ni aja aku dah korupsi waktu banget. Liat aja sekarang udah jam empat lewat dua puluh lima menit. Sedangkan aku jam lima udah harus ada dibandara.”

“Wah. Anwar..anwar. dah tau mau berangkat. Eh malah bandel! Pake mampir-mampir kesini dulu pula. Tapi ngga pa-pa lah. Ketimbang nanti kangen pas di Bandung. Gimana pula cara ketemu ma adek Anya.”

“Iya ngga pa-pa lah. Nanti kalo tiba-tiba aku kangen kan tinggal anya paketin aja Annisa nya lewat kargo. Heehe”  aku pun menatap ke Annisa

“Huu dasar lu War! Mangnya adek Anya barang kiriman apa! Tega lu! hehe”

“Ow iya. Mama mana Sa?” tanyaku ke Annisa

karena waktuku yang dah mepet. Aku pun langsung mau berpamitan saja.

“Bentar ya Mas! Nisa panggil mama dulu.” Dia berlalu masuk ke dalam lagi.

Tak berapa saat Mama nya pun keluar dari pintu samping.

“Tante! Anwar mau pamit berangkat ke Bandung dulu, tante” sapaku ke mama Annsia.

“Pesawatnya jadi berangkat jam berapa, Anwar!”

“Jam lima Ma! Cuman si Anwar ni bandel aja. Mau ketemu bini nya dulu tuh kayaknya.” Anya pun langsung memotong dan menjawab sembari menggodaku.

“Jam lima? Memang kamu masih keburu kesananya, Anwar? Sekarang aja udah jam setengah lima kurang. Belum perjalanan kamu ke Bandara. Tapi yah hati-hati saja.”

Insya Allah. masih keburu kok tante. Ow ya Tante! Anwar mau langsung pamitan aja ya ”

“Iya. Baik-baik ya disana. Salam juga buat mama, Anwar!”

“Iya Tante! Insya Allah sampein ke mama”

Aku pun langsung bersalaman dan bergegas pergi lagi. Annisa lalu mengantarku sampai ke tangga bawah. Di “Tangga berdetak” ini. Jantungku pun kembali berdetak kencang. Biasanya kalau berdetak, karena akan bertemu dengan Annisa. tapi kali ini lain, berdetak karena akan berpisah jarak dengannya. Aku berdiri pas didepan Annisa tapi diposisi luar pagar. Sedangkan Annisa sendiri  berada di bagian dalamnya. dia pun sibuk menutup pintu pagar dan menguncinya. aku langsung bisa melihatnya. Karena pagarnya ini mempunyai celah-celah yang banyak. Hah inilah waktu terakhirku untuk bisa melihatnya. Kita pun tak banyak berkata-kata perspisahan.

“Nisa! Mas berangkat dulu yah!” aku pun tak tau harus berkata apa! Hanya kata-kata basi inilah yang bisa aku keluarkan. Dadaku begitu sesak. Banyak kata yang ingin terucap tapi bisu. Aku hanya tetap menatapnya.

“Iya, hati-hati ya! Baik-baik disana. Yaudah kamu sana-sana pergi. Nanti keburu telat lagi.” Annisa pun seperti setengah mengusirku, tapi aku tau sebenarnya dia mencoba untuk membuatku agar tak terlalu sulit dengan perpisahan ini.

“Iya. Mas berangkat”

Annisa pun langsung menyalamiku. Lalu aku membalikan badan dan langsung menuju ke mobil. Tiba-tiba dari atas terdengar suara teriakan Anya.

“ANWAR! Nanti kalo udah sampai di jalan jangan nangisin adik anya yah!” dia pun tertawa lepas menggodaku.

“Huu dasar lu Anya!” aku pun tersenyum melihatnya keatas.

Hah sudahla, kalo aku lihat keatas terus. Pasti tambah berat untuk aku beranjak dari sini. Aku pun langsung masuk mobil. Dan menyalakan mesin. Sekarang waktunya aku pulang kerumah, berkemas dan tinggal berangkat ke Bandara. Aku hanya geli melihat waktuku yang tinggal tiga puluh lima menit lagi ini. Entahlah apakah aku sanggup untuk bisa ngelawatin ini semua. Aku juga sedikit heran kenapa kok udah jam segini. Tapi mama belum menghubungiku juga. Padahal dari tadi siang mama sudah mendesak agar aku bisa cepat pulang. Yah, yang penting sekarang aku harus cepat sampai kerumah dulu. Dan berharap semuanya lancar.

Ya Ampun! Alangkah terkejutnya aku. Ketika keluar dari komplek. Aku lihat antrian mobil panjang berderet kebelakang. Aku lupa! Kalo jam segini itu. Memang daerah Baloi udah langganan macet. Tapi tak apalah. Aku tak ingin dibawa pusing lagi. Jalanin saja semuanya dengan hati yang senang. Toh, kalau pusing mikirin macet ini pun. Ngga bakalan bisa berubah jadi lancar kan?

Ketika perjalanan pulang sudah hampir dekat lampu merah. Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Menandakan ada sms yang masuk. Hah, gawat!! Pasti ini sms dari Mama. yang ingin menanyakan. Kenapa sampe sekarang aku belum pulang-pulang juga. Pikirku cemas. Dengan jantung yang berdebar-debar dan perasaan bimbang. Aku ambil handphone di saku. Lalu kubuka perlahan-lahan. Kupejamkan mata sambil menenangkan diri. Aku baca Bismillah. Lalu  kubuka mata kembali dan kulihat nama pengirimnya. Haa! Alangkah terkejutnya aku. Karena nama yang mucul itu bukan nama Mama. Melainkan sebuah kata dengan nama “NISAnwar”. Bukannya berdetak semakin pelan jantungku. Malah berdetak semakin cepat. Karena aku begitu kaget dan ngga menyangka. Kalau aku bakalan dapat sms dari dia. Aku hanya bisa tersenyum sendiri ketika melihat siapa pengirimnya. Aku juga masih belum berani untuk membacanya. Untung sekarang jalanan sedang macet. Kalau ngga mungkin mobil ini sudah nabrak dari tadi. Saking senangnya.

Alhamdullilah. Ternyata dihari yang cukup melelahkan dan menjengkelakan sepanjang hari tadi. Aku telah mendapatkan sebuah kebahagian dibalik ini semua. Tak selamanya cobaan itu hanyalah penderitaan belaka. Pasti ada sebuah hikmah dibaliknya. Asal kita mau ikhlas berusaha dan tetap menjalankannya. Apa yang aku jalani sejak tadi. Sekarang semuanya benar-benar sudah “Di bayar lunas” bahkan lebih. Sama sekali tidak bisa dinilai dengan sebuah Materi. Jika hal ini bisa ditukar dengan sebuah harta. Pasti aku akan dengan lantang menolaknya! Kebahagian sangatlah mahal bahkan tak akan pernah terbeli.

Aku seperti melayang dan terbang yang sangat tinggi. Mungkin juga, Aku adalah benar-benar orang yang paling bahagia di dunia. Betapa senang yang tak terkira. Ketika mengetahui apa isi yang dituliskan Annisa untukku. Sungguh kaget dan ngga akan pernah menyangka. kalau Annisa akan menuliskan ini untukku. Sepanjang yang aku tahu, Annisa adalah orang yang sangat cuek denganku. jadi sangatlah sulit dipercaya kalau itu benar-benar dia yang ngirimnya sendiri.  Tapi inilah kenyataanya. Ini memang dia yang menulisnya sendiri. Karena aku tau betul karakter penulisan darinya. Inilah untuk pertama kalinya aku meneteskan air mata. Bukan karena sedih. Melainkan aku menangis karena senang yang teramat sangat bahagia. Air mata pun terus membasahi pipi. Aku sungguh ngga bisa menahan perasaan ini.

Sms nya berbunyi:

Assalamualaikum

Mas, terimakasih ya untuk semuanya. Boneka , bunga, cincin yang kamu kasih ke Nisa, bagus semua. Sebenernya Nisa tadi juga khawatir. Takut  ga bisa ketemu kamu lagi pas kita pisah di sekolah. Tapi sekarang udah ngga koq. Karena Nisa  kan dah ketemu kamu. Disana  Kamu belajar yang benar ya. Jangan sampai kecewain mama. Semoga kamu jadi orang sukses disana. Oh iya, Kalo kamu lagi kangen sama Nisa. Kamu tinggal  liat jam tangan pemberian dari Nisa aja ya!  Seandainya kamu ngga jadi cowonya Nisa, juga ga apa-apa. Asal kamu jadi suaminya Nisa, ntar. hehe. Nisa beruntung banget bisa sama kamu. Yang penting sekarang kamu udah jadi calon suami idaman Nisa..

Minggu, 30 maret 2008

Pukul 10:51 WIB

Dipati Ukur, Bandung.

Speak up

Assalamualaikum wr.wb.

Novel ini diangkat dari sebuah pengalaman hidup seorang anak manusia. Kejadian demi kejadian nyata terjadi dialami. Sebagian besar telah banyak dikembangkan kembali dari cerita yang sesungguhnya. Tujuan penulisan kurang lebih hanyalah untuk dijadikan sebagai kisah kelasik masa depan. Mudah-mudahan apa yang ditulis bisa bermanfaat bagi diri penulis dan orang yang membacanya.

Wassalamualaikum wr.wb

klik download untuk mengambil file

downloadfile_thumb

12 Responses to “cinta di antara waktu”


  1. 1 nuri October 2, 2009 at 9:51 am

    buuuuusetttttttttt,,,dahhh panjang amat,,,mas,,
    ni cerita nyata atau hayalan mas,,heheh
    klo cerita nyata duhh salutlah,,,
    keep spirit :0

  2. 2 trina October 10, 2009 at 9:16 am

    seruu,,,heheh unik mas ceritanya,,,sukses selalu 🙂

  3. 4 anissa.. October 10, 2009 at 4:09 pm

    masss,,, ni nisa mas,,,, kemana aja ih…hahahha,,
    terusakn perjuanganmu gannn,,,

  4. 6 takeshi November 11, 2009 at 2:25 pm

    kyknya ini pengalaman selama 20 taun ya id..
    panjang benerr…heuheu.
    keep spirit bro!

    • 7 new501d November 12, 2009 at 7:02 am

      hahah,,, 20 tahun?? kykna 21 tahun dehh
      wkwkwk,,,,
      dasar takeshi…. sipppppppppp always keep spirit,,
      jiaahh,,, ni siapa tah?? hahha,,,

  5. 8 Faridza March 19, 2010 at 6:09 am

    Baru driku sadari, ada sedikit perubahan pada novel ini!!!
    Huhh, gak sopan lu…

    • 9 soid menjawab March 23, 2010 at 4:31 pm

      heeeh,, ada perubahan dimannya jel,,perasaaan ga da yang dirku rubah deh jel,,,,
      “masih sama seperti yang dulu” (hihi kyk lagu aja)
      iya jel,,masih sama seperti pertama kali dirku krimin ke dirimu ntuhhh,,,, kaga da perubahan,,,
      hehhehe
      jellll,,,, si itu tuhhh tuh,,yang itu tuhh

  6. 10 aburahman March 20, 2011 at 5:25 pm

    wahhhh gannn,,, ente ceritanyaa panjangg amatt ya,,ahhaha
    tapi ane salutlahh gannn

    cintaaa mati ente tuh gan????hahhaha
    skrg gimana kbrnyaaaa????


  1. 1 TAWAKAL: Kumpulan Cerita Hikmah – Bijak | inspirasi.me Trackback on September 12, 2012 at 3:46 am
  2. 2 TAWAKAL: Kumpulan Cerita Hikmah | bijak.net | bijak.net Trackback on September 14, 2012 at 8:00 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: