IBU- Yang Terbaik Yang Kumiliki


6411_1085385783990_1506766938_30205593_4762395_n

 

Sebuah karya Sederhana

IBU – Yang Terbaik Yang Kumiliki

k a r y a

Yekiko Firaldi

Semansa Batam

 

 

Yang Terbaik Yang Kumiliki Ketika itu, aku hanyalah seorang bocah berusia 4 tahun yang tengah asyiknya bermain sepeda mini tanpa peduli dengan keadaan sekitarku. Bahkan aku tidak terpikirkan mengenai bahaya yang akan aku hadapi jika aku bermain di sana, di jalan di depan rumahku, sampai ketika ibu berteriak “Faannnyyyy…..!!!!!! Awaaaassss……”. Brraaakkk… Ibuku tak kuasa menyelamatkanku dari kecelakaan maut itu. Sebuah mobil bak tertutup yang tengah melintas setengah kencang setelah mengantarkan barang-barang tetanggaku yang baru saja pindah rumah, tidak sempat mengelak ketika aku tiba-tiba muncul dari balik mobil ayahku yang tengah parkir di pinggir jalan depan rumahku. Tubuh mungilku setengah hancur ketika ayah dan ibu membawaku ke rumah sakit dengan sisa nafasku yang satu-satu. Miris melihat keadaanku, tak henti ibu dan ayah menangisi aku yang tengah berjuang di ruang operasi. Bertambah sedihnya mereka, setelah apa yang dikatakan dokter kepada mereka sesudahnya aku di ruangan itu selama beberapa jam. Tulang belakangku yang penuh dengan saraf itu hancur. Kini dan selamanya, aku tidak akan dapat menggunakan anggota tubuhku lagi. Aku lumpuh, lumpuh total untuk selamanya. Tulang belakangku yang kini tidak bisa tegak itu disangga oleh sebatang besi yang dipasang di dalam tubuhku. Bahkan untuk bernafaspun, sebuah selang telah terpasang rapi di dalam tubuhku. Sekarang dan seterusnya, aku akan sangat bergantung pada benda itu. Setelah keadaanku mulai berangsur membaik, akupun diizinkan untuk meninggalkan rumah sakit. Ibu menggendongku yang kini tidak dapat menggerakkan anggota tubuhku lagi. Aku rindu rumah ini. Ibu akan sangat repot setelah ini, tidak hanya mengurus Arini, adikku yang kini tengah berusia dua tahun, tapi ibu juga harus mengurusku dengan ekstra karena aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mulai dari menyuapiku makan, memandikanku, mengurus buang airku, memindahkan aku agar aku tidak hanya terdiam di suatu tempat, bahkan setiap dua jam sekali saat tidur di malam hari, ibu harus membalik tubuhku karena aku tidak kuasa melakukannya sendiri. Dokter mengharuskan tubuhku dibalik setiap dua jam sekali saat tidur, kondisi tubuhku yang memaksakan hal itu. *** Tiba saatnya aku dan anak-anak seusiaku masuk ke sekolah. Ibu dan Ayah ragu untuk mendaftarkanku di sebuah sekolah dasar di kota ini. Mereka tahu bahwa tidak ada yang

dapat aku lakukan di sekolah nantinya selain berbicara, mendengar dan melihat. Namun, melihat kesungguhan dan besarnya keinginanku, akhirnya ayahpun mengizinkan aku untuk bersekolah bersama anak-anak normal lainnya, dengan ibu bersamaku. Di sekolah, memang tidak ada yang bisa kulakukan selain berbicara, mendengar dan melihat. Sungguh aku sangat bersemangat sekali untuk ke sekolah dan belajar di sana, dengan seksama dan penuh ketekunan aku memperhatikan apa yang di sampaikan oleh guruku. “Anak-anak, siapa bisa mengerjakan soal-soal yang ibu tulis di papan tulis? Ayo angkat tangan”, ibu guru berkata sambil memandang kami semua yang hening. “Bu, angkat tangan, aku tahu jawabannya”, aku memohon pada ibuku. Ibuku mengangakat tangannya. Setelah dipersilahkan oleh ibu guru, ibu mendorong kursi rodaku ke depan kelas, aku menyebutkan jawabanku dan ibuku yang menulisnya di papan tulis. Guruku tersenyum puas. Beginilah aku di sekolah, ibu selalu menemaniku. Dia ikut bersamaku belajar di dalam kelas. Aku hanya sanggup mendengar dan memperhatikan guruku mengajar, untuk mencatat dan menulis soal-soal, ibu yang melakukannya untukku. Aku hanya bisa menyebutkan jawabannya dan ibukulah yang akan menuliskannya. Begitu juga ketika aku membaca buku, ibu yang mengambilkannya dan membalik-balikkan setiap halamannya. Aku sangat menyadari keterbatasanku untuk melakukan sesuatu, namun hal itu tidak pernah menyurutkan semangatku untuk terus belajar dan menjadi orang yang berguna kelak, walaupun aku tahu bahwa aku sangat merepotkan. Aku ingin sekali mempergunakan kesempatan yang diberikan padaku, aku akan membuktikan kepada semua orang, bahwa aku bisa, aku bisa pintar bersama mereka. Aku sangat terinspirasi oleh Stephen Hawking, seorang ilmuwan inggris yang bernasib sama sepertiku. Ia juga tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, bahkan kondisinya semakin diperparah dengan hilangnya kemampuannya untuk berbicara. Ia yang lebih terlihat seperti “mayat hidup” saja tidak pernah menyesali keadaannya dan terus berupaya membuat dirinya berguna. Dalam kondisinya yang seperti itu, otaknya terus berfikir dan hasil pemikrannya itu langsung diterjemahkan oleh sebuah komputer khusus. Walaupun tubuhnya tidak dapat melakukan apapun, ia tetaplah seorang ilmuwan, yang hasil pemikirannya sangat dibutuhkan di dalam dunia pendidikan. Jika ia bisa, akupun pasti bisa. Tidak sia-sia, ayah tidak akan menyesal mengizinkanku bersekolah, dan ibu tidak akan merasa sia-sia selalu menemaniku di sepanjang jam sekolah, aku berhasil menjadi juara pertama di kelasku, dan posisi itu tidak pernah tergeser hingga aku menyelesaikan SMA di sebuah SMA Negeri terfavorit di kota ini. Ayahpun tidak lagi dibebankan oleh biaya sekolahku, sejak aku mengukir prestasi di sekolah dasar, aku selalu memperoleh beasiswa pendidikan. Sehingga sejak itu hingga aku duduk di bangku SMA, ayah tidak lagi menanggung biaya sekolahku. Tidak hanya prestasi secara akademis, akupun sering menjuarai kompetisi-kompetisi menulis, mulai dari karya tulis, essai dan berbagai artikel. Awalnya memang sangat merepotkan, ibu harus mengetikkan semuanya untukku. Namun, setelah aku diberi bantuan oleh seorang pihak swasta dengan memberiku sebuah komputer otomatis yang dapat aku gunakan hanya dengan berbicara, ibu tidak lagi terlalu direpotkan oleh tugas-tugasku, aku bisa melakukannya sendiri dengan komputer otomatis itu. *** Aku telah menamatkan pendidikanku di SMA, dan aku sangat berharap dapat melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi, tapi di sinilah masalah baru muncul. Ayah sangat berat memberikan izinnya padaku. Aku berhasil diterima di Institut Tekhnologi Bandung. Oleh karena jarak yang sangat jauh dari kota ini, ayah sangat berat melepasku. Aku sadar, bahwa aku tidak akan bisa lepas dari ibu, lalu bagaimana dengan ayah dan Arini tanpa ibu di rumah? Kemelut itu terus saja menyesakkan dadaku. Keinginanku sangat kuat untuk bisa kuliah di sana, aku ingin mengejar cita-citaku. Aku tahu, bahwa tetap tidak ada yang dapat kulakukan setelah aku menyelesaikan pendidikanku di sana dengan kondisi fisikku yang seperti ini. Namun, akan tetap ada yang bisa aku berikan dengan diriku. Aku akan berguna, aku yakin itu. Akhirnya, akupun berhasil mengantongi izin ayahku. “Aku tidak akan mengecewakanmu ayah”, gumamku dalam hati. Aku dan Ibu berangkat meninggalkan Ayah dan Arini mengejar cita-citaku, aku melihat Arini yang berlinangan air mata, aku tahu dia sangat menyayangiku, walaupun aku telah menyita seluruh perhatian ibu, ia tidak pernah membenciku karena hal itu, bahkan ia juga kerap kali membantuku dikala ibu sedang mengerjakan hal lain. Aku selalu mendoakan yang terbaik untuknya, untuknya Arini adikku tercinta. Di kota ini, aku akan mulai menjalani kehidupanku sebagai seorang mahasiswa. Waktu terus berlalu, dan ibu selalu ada untukku. Bahkan ketika aku mulai menyukai seorang pemuda teman kampusku, ibu juga ada untuk mendengarkan ceritaku akan dirinya yang membuatku semakin bersemangat menjalani perkuliahan. Ari namanya, karenanya hari-hariku di kampus terasa lebih berwarna, tidak homogen yang selalunya dipenuhi dengan pelajaran. Dia benar-benar mewarnai hari-hariku dengan kehadirannya sebagai teman baik untukku. Betapa tidak, ia berbeda dengan kebanyakan teman yang pernah aku miliki. Jika selama ini teman-temanku mendekatiku hanya untuk belajar dan sekedar bertanya mengenai pelajaran yang sulit mereka mengerti hanya dari penjelasan guru, dia mendekatiku sebagai teman, bukan sebagai tutor seperti kebayakan temanku yang lain. Sungguh aku sangat senang. Semakin lama semakin sulit bagiku untuk menganggapnya sekedar sebagai teman, aku tidak bisa mengontrol perasaanku untuk menyayangi dan mencintainya lebih dari sekedar teman. Dia, dia Ari yang semakin hari membuatku semakin bisa melupakan kekurangan pada diriku. Sungguh aku merasa seolah-olah aku seperti gadis pada umumnya, tidak seperti teman-temanku yang lain yang membuatku selalu minder dan tidak pernah percaya diri dengan keadaanku. Ia selalu memberiku semangat untuk terus berkarya dan belajar serta tidak pernah putus asa dengan keadaanku. Sungguh ia seorang pemuda yang sangat santun sikapnya dan berbudi luhur, dan aku mengaguminya lebih dari sekedar rasa itu. Di kampus, aku dan dia kerap kali terlibat pembicaraan yang sangat menyita waktu, namun semua tidak begitu dirasakan, waktu mengalir dengan sangat singkatnya bagiku. Aku tidak pernah tau apa begitu juga yang ia rasakan. Terkadang, ada kalanya ibu menggodaku dengan menjadikan Ari sebagai bahan leluconnya. Ya, aku sangat terhibur dengan hal itu. Tiba saatnya aku menyusun skripsi untuk gelar kesarjanaanku. Tetap ada ibu yang selalu membantuku dan tetap ada Ari yang turut memberiku semangat setiap kali aku merasakan jenuh dalam menyelesaikan skripsi itu. Tugas menyusun skripsi membuatku terkungkung di rumah, aku hampir tidak pernah bertemu dengan Ari lagi, komunikasi kami hanya terjadi di email. Sekali-sekali aku dan dirinya berkirim email untuk sekedar memberi semangat dan memberi kabar. Menyusun skripsi kini terasa sangat menyenangkan, terkadang dia memberi sedikit guyonan di dalam emailnya. “Fan… Fanny ini ada paket buat kamu”, ibu masuk ke kamarku ketika aku sedang menulis skripsi di komputer otomatisku itu. Terasa bungah dalam hati, ketika aku tahu bahwa Ari yang mengirim amplop coklat seukuran buku tulis itu kepadaku. “Bu, bukakan amplop itu untukku”, pintaku pada ibu dengan penuh semangat. Tak terasa, bahkan tanpa aku sadari, air mata ini mengalir begitu saja, dan aku tak kuasa untuk menghapusnya. “Kamu gak pantas menangis”, dengan lembut ibu berkata dan dengan tangannya ia menghapus air mataku, namun air mataku malah semakin deras mengalir di pipiku. Perasaanku jadi tidak menentu saat itu, sungguh aku belum bisa mempercayai kenyataan yang ada di hadapanku, Ari mengirimkan aku undangan pernikahannya. Seharusnya dari awal aku tidak terlalu berharap banyak padanya, seharusnya aku menyadari keadaanku yang seperti ini, lelaki mana yang bisa menyukaiku. Mulut ini terasa bungkam, bahkan untuk mengungkapkan kesedihanku saat itu, aku tidak bisa melakukannya. Ibu hanya mendekapku sambil membelai rambutku, aku tahu dia pasti ikut terluka melihatku seperti ini. Setelah kedatangan undangan itu, aku merasa segalanya telah berakhir. Aku tahu bahwa aku telah melakukan kesalahan dengan berharap terlalu banyak pada Ari. Tapi aku sendiri tidak memungkiri bahwa kehadirannya memberi warna pada kehidupanku, ia membuatku merasa sebagai seorang yang sempurna, tidak lumpuh. Dia memberiku semangat yang luar biasa, sehingga dalam waktu dua tahun aku sudah bisa menyusun skripsi untuk gelar S1-ku. Namun, undangan itu kini mengubur seluruh semangatku. Undangan itu membuatku menghabiskan waktu hanya dengan melamun dan meratapi yang terjadi padaku, bahkan aku tidak peduli bahwa skripsi itu menuntutku untuk menyelesaikannya. Berminggu-minggu aku masih belum bisa mengumpulkan puing-puing semangatku lagi, walaupun ibu selalu menghiburku, rasanya tidak ada yang dapat kulakukan kini. Aku menyesali semua ini, kenapa aku harus menjadi seseorang yang lumpuh yang tak berguna, kenapa aku harus bertemu dengannya, dan kenapa harus aku yang mengalami semua ini. Linangan air mata yang terus menerus itu telah membuat sembab mataku, walaupun ibu selalu menghapus setiap linangan air mataku, tetap saja ia terus mengalir. “Fanny, kamu membuat ibu sedih melihatmu seperti ini. Mana Fanny yang pernah berjanji untuk membahagiakan ayah dan ibu? Tidakkah kamu merasa bahwa kami sangat menyayangimu? Ibu, Ayah dan juga Arini”, Ibu berkata sambil membelai kepalaku. “Bukankah semua ini kamu lakukan untuk kami, Fanny? Mengapa kamu membiarkan seorang Ari menghancurkan semua yang kamu persembahkan untuk kami?”, ibu berkata lagi. Air mataku semakin deras mengalir, dan itu sebagai tanda bahwa aku telah berhasil menghancurkan bayang-bayang Ari, Ibu benar aku harus tetap bersemangat untuk mereka, mereka yang api cintanya padaku tak pernah padam, Ibu, Ayah dan Arini. Aku mulai melanjutkan mengerjakan skripsi yang sempat tertinggal untuk beberapa saat, aku harus buru-buru karena aku sudah mebuang sia-sia waktuku hanya untuk Ari. Seharusnya aku mendoakannya bahagia dengan pilihannya. Selamat berbahagia Ari. Akhirnya, kini aku telah menjadi seorang sarjana tekhnik. Aku sangat menyadari bahwa aku tidak akan dapat bekerja setelah ini. Perusahaan mana yang mau merekrut karyawan lumpuh? Lalu apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa berbuat apapun tanpa ibu. Sampai seorang dosenku menawarkan untuk melanjutkan mengambil gelar S2 untuk kemudian menjadi dosen di sini, di Institut Tekhnologi Bandung. Aku menemukan secercah cahaya, aku bisa bekerja. Di kelasku yang sekarang, aku adalah yang termuda, usia 21 tahun diantara mereka semua yang rata-rata telah mencapai usia 30 tahun. Aku semakin bersemangat setiap kali menjalani perkuliahan, karena aku tahu bahwa di depan sana aku telah ditunggu sebagai seorang dosen, ada sesuatu yang bisa kuberikan pada orang lain walaupun aku seorang yang lumpuh. Kini aku tengah mempersiapkan tugas akhir untuk menyelesaikan program magister ini. Dan sekali lagi, ibu selalu ada untukku. Dialah sosok terbaik yang pernah kumiliki. Ibuku seorang terhebat yang pernah kutemui. Seseorang yang kasih sayangnya tidak pernah putus dan terus ada untukku. Dia pelita di tengah kegelapanku, dia air penyejuk di tengah kehausanku, dan kehangatan di tengah kebekuanku. Terbayangkah bagaimana hebatnya ibuku? Sejak kecelakan itu hingga sekarang ia selalu berada di sampingku, ia menjadi tanganku untuk menggapai sesuatu, dan ia menjadi kakiku untuk melangkah kemana pun. Ia tidak pernah mengeluh karena tidurnya setiap malam harus terganggu hanya untuk membalik tubuhku setiap dua jam sekali dan ia sudah melakukan hal itu selama bertahun-tahun bahkan hingga sekarang, hingga aku dewasa. Ia selalu menghiburku ketika semua orang melukaiku karena kondisiku yang seperti ini. Ia yang datang mendekat ketika semua orang menjauhiku. Ia menemaniku sepanjang hari, ia menjadi temanku di sekolah di saat tak seorang anakpun mau bermain denganku pada saat jam istirahat sekolah. Ia menjadi temanku berbincang-bicang tentang banyak hal, ketika di saat yang bersamaan tak seorangpun menganggap diriku teman yang baik untuk berbincang-bincang. Terkadang aku tak bisa membendung linangan air mata ini untuk mengalir setiap kali aku ingat apa yang telah ibu lakukan untukku. Hati ini miris melihat pengorbanannya yang tak berujung untukku. Sampai usiaku kini hampir menginjak 23 tahun, ibu tidak pernah jemu mengurusku, mengurusku layaknya anak kecil. Aku sadar akan ketidakberdayaan diriku. Bahkan, kehadiran diriku yang selalu merepotkannya setiap waktu itu, tidak sedikitpun melunturkan kasih sayangnya terhadapku, sosoknya tetap ada di sampingku. Kepada orang-orang yang mentertawakanku, terima kasih tanpa kalian, aku tak akan pernah menangis Kepada orang-orang yang tak dapat mencintaiku, terima kasih tanpa kalian, aku tak akan pernah tahu apa arti cinta Kepada orang-orang yang menyakiti perasaanku, terima kasih tanpa kalian, aku tak akan pernah merasakannya Kepada orang-orang yang meninggalkanku sendirian, terima kasih tanpa kalian, aku tak akan pernah menemukan jati diriku Tetapi, kepada orang-orang yang berfikir bahwa aku tak dapat melakukannya kepada kalianlah aku paling berterima kasih tanpa kalian, aku tak akan pernah mencoba Aku masih memiliki seorang ibu. Ibu… Takkan pernah bisa aku membalas semuanya, walaupun dunia dan seisinya ku persembahkan untukmu. Ibu… Sosokmu menenangkan jiwaku, cinta darimu tak pernah padam untukku, kasih sayang darimu tak pernah berakhir untukku. Betapa merepotkannya aku, tak sedikitpun aku mendengar keluhanmu. Pengorbananmu dari mengandungku, melahirkan, mengurus dan membesarkanku, takkan ternilai oleh apapun. Ibu… kau ajarkan aku kehidupan, kau perkenalkan aku pada dunia, bahkan kau bantu aku mencari jati diriku, dan pada akhirnya kau yang membentukku menjadi seseorang. Sehingga aku ada dan dianggap ada oleh orang-orang. Ibu… Harus dengan apa aku membuatmu bahagia? Ingin sekali aku mengukir senyum termanis di wajah ikhlasmu. Keteduhan wajahmu menjadi sandaranku dengan segala kegelisahan hatiku. Kasih sayangnya yang sangat besar untukku, itu yang mendasarinya melakukan semua ini untukku tanpa mengeluh sedikitpun. Dia, dia ibuku sosok terhebat di sepanjang sejarah kehidupanku. *** Aku tersenyum puas, aku telah selesai menuliskannya. Segera aku mematikan komputer yang dari tadi aku gunakan untuk menggambarkan sosok ibuku ke dalam sebuah naskah yang nantinya akan aku ikutkan lomba menyambut hari ibu. Aku ingin membuat kejutan untuknya. “Fanny, makan siang dulu. Dari pagi kamu hanya menghabiskan waktumu di depan komputer itu”, ujar ibu yang tiba-tiba masuk ke kamarku. Aku tersenyum padanya. Kemudian dengan perlahan ia menyuapiku sesendok demi sesendok. “Fan, Ayah dan Arini akan segera kemari”, ujar ibu padaku. “Mereka jadi pindah ke sini dan tinggal bersama kita, bu?”, aku bertanya pada ibu dengan sangat senangnya. “Sepertinya iya, Arini sudah diterima bekerja di kota ini, tapi mungkin baru satu bulan lagi baru mereka benar-benar bisa pindah ke sini”, jawab ibu. Betapa bahagianya aku, akhirnya kami berempat bisa berkumpul lagi. Selama aku kuliah di sini, hanya sebulan sekali saja ayahku datang menjenguk kami, Ayah masih belum bisa menyusul kami karena ia masih terikat pada pekerjaannya, begitu juga dengan Arini, pekerjaan membuatnya tidak bisa menyusul kami di sini. Tapi sekarang, sejak Ayah pensiun enam bulan yang lalu, Ayah dan Arini memutuskan untuk menyusul kami tinggal di sini. Arini mencoba untuk melamar pekerjaan di kota ini, dan sekarang ia berhasil mendapatkannya. Aku tidak sabar menanti kedatangan mereka. Kini, aku dan Arini yang menjadi tulang punggung keluarga. Memang sih, uangku dari menulis buku tidak begitu banyak. Sambil menyelesaikan program magister-ku, aku mencoba menulis beberapa buku, untuk bisa dijadikan panduan bagi mahasiswa dalam menyelesaikan kuliahnya. Uang hasil menulis buku itu lumayan, aku dapat menggunakannya untuk sekedar menambah uang saku kami. Namun tidak lama lagi, gajiku sebagai dosen akan cukup untuk kebutuhan kami sehari-hari. Aku dan Arini akan menjadi kebanggan kedua orang tua kami, itu tekadku. ***

  • Karya Faridza Firaldi
  • Semansa Batam

downloadfile_thumb

Download File

8 Responses to “IBU- Yang Terbaik Yang Kumiliki”


  1. 1 mentari bulan August 20, 2009 at 12:07 pm

    cerita tentang ibu,, whhhh jdi i lufff u moooommmm

  2. 2 sutrina August 24, 2009 at 9:01 am

    ceritanya fiktif atau non fiktif nihh buu,,
    heuuu… bolehla,,,
    coba dikembangin lagi aja tuhh

  3. 3 Just One Meet April 14, 2010 at 4:04 am

    karya yang bagus dari seseorang yang pernah aq kenal ..
    lanjutkan Q .. >,^

  4. 4 Joy Semansa Juga April 14, 2010 at 4:32 am

    Bagus ki. kalau butuh saran dan masukan atau kritik aku bersedia untuk membaca lebih lebih detail… moga jadi penulis hebat dan diakui kelak, Amin 🙂

  5. 5 Faridza April 17, 2010 at 2:57 am

    Terima kasih
    ^.^

    • 6 new501d April 18, 2010 at 4:44 pm

      singkat banget lu jel,, ngoment nya… bilang apa kekk,, tuh udah dikasih smangt juga,,heeehe.dttu jel crita slanjutnya

  6. 7 S.1mpl.3 February 27, 2011 at 12:50 am

    Cerita yg penuh perjuangan serta kasih sayang

  7. 8 Ripsi Harjana January 6, 2012 at 12:19 am

    Bagus ya ceritanya, Inspiratif…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: